Friday, 8 December 2017

Tausiyah Ustadz Reza dalam Khataman MMQ JET TEMPUR Batam angkatan ke-13 tahun 2017 (BAGIAN 1)

Bismillahirrohmanirohim, Alhamdulillahiladhi Yatafaroqu bi Wahdaniyatil uluhiyah,
Walhamdiulilladhi yata’azaz bikahromatil Rububiyah wayu solli wa nusholli ala Sayidina wa Maulana Muhammad. Ibni Abdillah wa’ala alihi wa’as habihi wamauwalah amma ba’dah.

Hadrotal Qirom, poro kyai poro alim ulama, poro khabaib, poro sesepuh, poro pinisepuh. Yang kita
muliakan bersama-sama Habibana Karim Sayyid Muhammad Syauqi bin Yahya, semoga beliau selalu diberi kesehatan, umur panjang oleh Alloh swt. Amin ya Robbal Alamin.

Yang kita muliakan kita bersama-sama, beliau panjeneganipun hadhal ma’had, panjeneganipun Kyai
Khotibul Umam bin Kyai Haji Maftuh Basthul Birri akinal karim ibnul karim. Ingkang kita muliakan
bersama-sama segenap para hudamak, para khodim ponpes Jet Tempur Batam, panjenaganiun Pak
Kyai Huda, panjenaganipun Pak Kyai Imam Hasani, panjenenganipun Pak Kyai Agus, pokoke kulo
aturi kyai ngoten mawon.

Walaupun toh Pak Agus niki dereng rabi. Kados Pak Huda kalian Pak Imam Hasani niki jelas pak kyai. Jarene wong jowo niku pak kyai niku tukang numpak nggrayangi. Nggih kulo nggak paham apa yang ditumpaki dan apa yang digrayangi oleh beliau-beliau ini. Kalau kyai Agus ini saya yakin belum punya pengalaman dan skill untuk numpaki dan nggrayangi.

Segenap asatidz Ponpes Jet Tempur Madrasah Murottilil Qur’an yang dimuliakan Alloh SWT.
Segenap para sesepuh-sesepuh hadir ditengah-tengah kita. Sesepuh yang betul-betul sepuh.
Sesepuh yang betul-betul ampuh, panjenenganipun Romo Yai Samhudi. Beliau adalah guru saya,
beliau adalah sesepuh saya dan juga senior untuk para segenap alumni Ponpes Lirboyo. Jadi wis
senior, sepuh lagi. Sepuh itu kalau katanya orang jawa itu, sekali sesep langsung melepuh. Ini
memang keistimewaan dari beliau, maka waspadalah dengan beliau, sekali sembur bisa melepuh.

Hadirin hadirot yang dimuliakan oleh Alloh SWT, alhamdulillah pada kesempatan kali ini kita bisa
bersilaturahim, diberikan waktu oleh Allow SWT, diberi hidayah oleh Alloh, diberi rohmat oleh Alloh.

Pada kesempatan kali ini, dari berbagai macam daerah datang kesini. Ada yang dari Aceh, ada yang
dari Padang, ada yang dari Indramayu, ada yang dari Cirebon, ada yang dari Jawa Timur, ada yang
dari Kediri. Datang semuanya disini. walaupun toh ada yang keturunan, ada yang asli, macem-
macem, sampai subhanalloh In sya Alloh bibarkati hudurikum minal barokah dateng panjenengan
semua, majelis ini menjadi majelis yang dirohmati oleh Alloh SWT.

Majelis ini menjadi majelis yang dipenuhi dengan hidayah oleh Alloh SWT. Majelis yang diberikan barokah oleh Alloh SWT. Amin amin ya robbal alamin. Lebih-lebih di majelis ini, kita sama-sama menyaksikan, mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an. Kita menyaksikan yang in sya Alloh mereka tadi yang satu persatu dipanggil betul-betul menjadi ahlul Qur’an amin ya robbal alamin.

Al Qur’an ini memiliki hal yang sangat berbeda dengan kitab-kitab yang lainnya, satu mukjizat yang
berbeda dengan mukjizat-mukjizat Alloh yang diberikan kepada nabi-nabiNya Alloh, karena sangat
berbeda. Al Qur’an disini walaupun toh tulisannya itu dengan memakai dengan bahasa Arab. Al
Qur’ankan tulisannya pakai bahasa Arab” nahnu nazzalna qur’anan arobia” jadi dengan memakai
bahasa Arab. Tapi toh Al Qur’an itu tulisannya memakai bahasa Arab, tidak semua orang Arab
mengerti makna dan kandungan daripada Al Qur’an , dan bahkan tidak semua orang Arab itu bisa
membaca Al Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan tajwid dan mahrojnya.

Saya sendiri pernah mendengarkan langsung bagaimana teman-teman saya yang dari Yaman jelas asalnya yang aslul Arobia, asal Arab itu adalah Yaman. Umurnya yang sudah 20 tahun lebih mendekati 30 tahun, disuruh baca Al Qur’an, itu banyak sekali huruf-huruf yang diganti, mahroj gak pas, kemudian shorofnya juga tidak pas, harokatnya pun juga tidak pas, bukan jaminan, bukan jaminan ketika ia berjinsiah Arab, ketika dia adalah orang Arab, bukan jaminan dia bisa membaca Al Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan hukum-hukum bacaan dalam Al Qur’an.

Al Qur’an dengan memakai bahasa Arab, jelas. Dah bahkan satu riwayat mengatakan” tatasyarrofu
kulul quran , fatasyarofu lughotul arobiyah bilughotil quran” bahasa Arab itu bisa menjadi mulia
karena apa? Karena dipakai oleh Al Qur’an. Yang tadi disampaikan oleh habib, kesababapan dengan
Al Qur’an. Karena dipakai oleh Al Quran, akhirnya menjadi mulia. Kemuliaan bahasa Arab ini karena dipakai oleh Al Qur’an, karena memang yang bisa mengekspresikan makna daripada Al Qur’an hanya bahasa Arab.

Tidak ada bahasa satupun didunia ini yang bisa mengekspresikan.
Sampean tahu mengekspresikan itu apa? memang rodok repot ngomong karo wong deso iki. Untuk
menggambarkan makna kandungan, makna yang sebenarnya dari pada Al Qur’an, tidak ada yang
sanggup kecuali adalah bahasa Arab, sehingga Alloh disitu memakai bahasa Arab sebagai bahasa
pengantar dari pada Al Qur’an. Tapi walaupun toh Al Qur’an itu memakai bahasa Arab tapi tidak
semua, tidak semua orang Arab mengerti secara baik, mengerti secara benar apa yang dimaksud
oleh Al Qur’an.

Para santri bersalaman dengan Ustadz Reza saat beliau tiba ditempat acara( foto: koleksi pribadi)


Al habib al Muhammad al Badisani, salah satu tokoh pemikir dari Iraq, beliau pernah mengatakan
bahwasannya bahasa Arab itu adalah bahasanya Al Qur’an, tapi maknanya Al Qur’an itu makna yang
bersifat insani bathiniah yang memilki unsur psikologiah. Jadi para rawuh, Al Qur’an itu tulisannya
bahasa Arab, bahasanya pun juga bahasa Arab tapi kalau masalah makna dan kandungan tidak
hanya untuk mereka-mereka orang Arab. Faedahnya tidak hanya untuk orang Arab akan tetapi untuk
semua manusia, akan tetapi untuk semua bangsa , inilah hebatnya bahasa Arab.

Sehingga banyak orang orang yang berjiansiah Arabiah, mulai dari kecil dia ngomong bahasa Arab,
orang-orang Saudi, orang-orang Qatar, orang-orang Emirat, mereka semuanya itu pakai bahasa Arab.
Kalian nggak usah nggumun alias, apa namanya nggumun bahasa Indonesianya? Takjub, heran.
Sampean nggak usah takjub, nggak usah heran, di sana anak itu masih umur lima tahun bahasa
Arabnya ngeces. Nggak pakai kursus tapi bahasa Arabnya luar biasa, walaupun toh bahasanya
bahasa Arab, ngomongnya sak bendinane pakai bahasa Arab, bukan jaminan dia memahami makna
sebenar dari pada Al Qur’an.

Karena Al Qur’an bahasa hati , sama di setiap acara seperti ini pasti dibuka dengan pembacaan ayat
suci Al Qur’an, betul tho? Ada pembacaan ayat suci Al Qur’an dilantunkan dengan Indah,
dilantunkan dengan merdu, kemudian ada salah satu hadirin atau hadirot menangis ketika
mendegar Al Qur’an itu dilantunkan, nangis.

Ini pernah terjadi, ada seorang hadirin menangis ketika mendengar bacaan Al Qur’an dilantukan. Ketika dalam sebuah acara, sing moco Al Qur’an seneng ketika melihat ada yang menangis, uh! dalam hatinya “Kena loe”, tambah lama lagi bolak-balik, ayat lagi, surat baru lagi, tambah nangis orangnya tambah lagi Allohu Akbar! tambah nangis, subhanalloh.


Setelah orang itu turun habis baca Al Qur’an, orang yang nangis itu disamprerin, “kenapa tadi nangis?” “Karena saya nggak enak ya kalau ngaji ya?” Terus dijawab, “enggak, saya menangis ini
karena teringat akan siksanya Alloh nanti di akhirot, saya masuk neraka”. Naudhubillahi mindalik.
Pedih siksanya Alloh nanti di akhirot. Yang baca Qur’an ini kaget, kagetnya kenapa? “Karena
perasaan tadi yang saya baca itu ayat-ayat bercerita tentang surga. Kenapa bercerita tentang
neraka?” Ini artinya para hadirin, ini artinya para hadirot bahasa Al Qur’an tidak hanya bisa
dimaknai dari sisi leterleknya saja, akan tetapi kandungan Al Qur’an ini memiliki satu hal yang luar
biasa, bisa menyentuh hati seseorang.

Gara-gara seperti ini, pada akhirnya barokahnya Al Qur’an itu sampai meluber ke bahasa Arab.
Barokahnya Al Qur’an sampai meluber ke bahasa Arab, sehingga orang itu kalau ngomong Arab itu
mesti kelihatan lebih gagah dari pada kalau ngomong bahasa Indonesia, betul? Orang itu kalau
ngomong Arab itu luar biasa, orang itu tunduk-nduk.

Dulu saya pernah ada tamu tamu dari Yaman datang ke lirboyo, karena dari Yaman guru-guru saya, datang ke lirboyo. Ya beliau kalau ngomong pakai bahasa Arab. Selama beliau berbicara mulai dari A sampai Z kurang lebih dua jam, semuanya pakai bahasa Arab. Dan santri-santri yang mendengarkan semuanya mengatakan amin, amin, amin nggak ada yang berani tolah-toleh sama sekali, wis pokoknya apa yang dikatakan mesti bagus. Iniloh kehebatan bahasa Arab, ada unsur psikologiah ada unsur batiniyah.

Sehingga kalau sampean khususnya laki-laki, ketika kalian merayu seorang perempuan dengan
memakai bahasa Arab, ini lebih…, lebih ampuh daripada merayu memakai dengan bahasa-bahasa
selain bahasa Arab. Sampean ngrayu orang perempaun dengan memakai bahasa Indonesia, “Mbak
mukamu bagai rembulan”, paling sampean langsung di gebrak, “Emang muka saya bulat?”

Tapi kalu seandainya kalian merayunya pakai bahasa Arab “Masya alloh fajbukikal qomar fa ta la’la
hadhal majhlis hadha binuri”, lho itu orang kalau ketemu orang perempuan, dengar itu,
mengungakapkan dengan bahasa Arab yang fasih , fa in sya Alloh , langsung meminta berapa nomer
WA mu, berapa nomer hpmu?. Coba dipraktekkan Pak Agus. Ini saya jadi bertanya-tanya mungkin
sampean kurang mempraktekkan bahasa Arab ditengah-tengah santri putri. ini kehebatan bahasa
Arab.

Dulu itu pernah ada santri lirboyo tiga tahun gak pulang, karena tradisi di lirboyo, barang siapa yg
mondok tiga tahun gak pulang di lirboyo , in sya Alloh pulang langsung jadi orang. Ini tradisi Pondok
Lirboyo. Tiga tahun di Lirboyo gak pulang- pulang pasti jadi orang, pasti. Itu pernah, ketika sudah tiga tahun gak pulang. Kemudian dia pulang, kebetulan santri Indramayu, mau pulang ke Indramayu dari Kediri, naik bis. Ia tiga tahun ibaratnya di….Lirboyo. ketika naik bis, karena ini pas kebetulan musim liburan ia naik bis, itu semua kursi bis penuh dengan penumpang. Kecuali ada satu kursi, tapi
sampingnya itu perempuan, “Mau gak mau dari pada dari Kediri sampai Indramayu berdiri, lebih
baik saya duduk walaupun samping saya kok perempuan”, iniloh santri.

Kalau bukan santri pasti
kursi kosong, kecuali satu kursi sampingnya perempuan pasti milih duduk disamping perempuan,
kalau santri tidak. Itu ketika duduk, disamping seorang perempuan, karena sudah tiga tahun gak pernah ketemu sama perempuan , keringatan pak, gobyos. Duduk diem khusyuk, khuduk, tawadhu, diem. Yang perempuan akhirnya juga grogi. Itulah hebatnya santri, belum apa-apa bisa membuat grogi perempuan. Seorang santri itu yang dari Lirboyo diam. Untuk biar pecah suasana, untuk biar
menghilangkan rasa grogi, akhirnya apa ? ia menghafal Nadhom Alfiah, dia hafal Nadhom Alfiah

“Daripada nganggur lebih baik saya nglalar Nadhom Alfiah” (Ust Rezapun melafalkan beberapa bait alfiah dengan cepat, dan penulispun tidak sempat mencatatnya). Ini yang perempuan semakin lama dibacain Alfiah semakin keluar keringat panas dinginnya. Akhirnya yang perempuan ini bilang ke santri lirboyo, “Kang kalau mau memahabbahi saya jangan seperti ini caranya”. Gak tahu Alfiah itu apa, tapi yang jelas Alfiah tadi pakai bahasa Arab, akhirnya apapun yang terjadi si perempuan ini
yakin dia, hatinya sedang di tembak oleh santri tersebut, walaupun toh dengan memakai Nadhom
Alfiah. Dengan memakai bahasa Arab.




Baca sambungannya di:

Tausiyah Ustadz Reza Dalam Khataman MMQ JET TEMPUR Batam angkatan ke-13 tahun 2017 (BAGIAN 2)






Batam, Ahad 14 Mei 2017 atau 17 Sya’ban 1439 H


Wassalam

No comments:

Post a Comment

 gambar tematik sdit kelas satu