Monday, 30 October 2017

Tigabelas Adalah Angka Keramat yang Membahagiakan

Untuk kesekian kalinya kami sekeluarga bisa menghadiri acara khatam Al Qur’an di Ponpes MMQ Jet
Tempur Batam tahun ini. Acara khataman pada kesempatan ini adalah yang ke-13 yang akan digelar
oleh MMQ Jet Tempur Batam, semenjak khataman untuk pertama kalinya digelar tahun 2005.

Sekertariat MMQ Batam( foto: koleksi pribadi)


Khataman bagi MMQ sendiri adalah event terbesar diantara event- event lainnya yang pernah
diadakan. karena nilainya sangat istemewa dan berharga, baik bagi para calon khotimin dan juga
para punggawa MMQ (baca: panitia). Ini bukanlah acara pengajian biasa, karena banyak hal atau
persiapan yang harus dimatangkan demi melancarkan acara ini, seperti persiapan dari segi acara,
perlengkapan, pendanaan, dokumentasi dan lain sebagainya.

Kertas penunjuk acara(foto: koleksi pribadi)


Pagi ini tepatnya ahad 14 Mei 2017 atau 17 Sya’ban 1439 H saya menghadiri acara tersebut bersama
istri dan kedua anak saya. Saat kami datang, acara yang berlangsung adalah pembacaan surat- surat
pendek Al Qur’an oleh para khotimin , mereka membaca surat pendek bergantian yang dilaksanakan
diatas panggung utama dengan disaksikan oleh para tamu undangan semua.

Mereka nampak khusyuk dengan bacaan masing-masing, membaca dengan tajwid yang pas disetiap
ayatnya, kami pun tidak heran karena mereka sudah terbiasa memuroja’ah bacaan-bacaan tersebut
dalam kesehariannya kala mereka mengaji. Dan bacaan-bacaan ini mereka drill lagi dalam sesi-sesi
latihan menjelang acara khataman ini.

Ada yang terlihat tegang, gugup dan juga ada yang tenang. Kamipun maklum adanya karena ini
adalah acara besar apalagi disaksikan oleh banyak pasang mata. Salah sedikit bisa malu dibuatnya.
Walaupun hal itu tidak sampai terjadi, karena kami percaya mereka telah mahir semua. Kegugupan-
kegugupan itu pasti ada, dan hal ini wajar dan pernah dirasakan penulis sendiri saat menjadi
khotimin tahun 2010 silam hehe!

Khataman pagi ini saya ikuti dengan lagak sok sibuk lari sana lari sini, bukannya sibuk sebagai panitia
namun sibuk demi mengejar anak lelaki saya yang main lari-larian disekitar tempat acara, walaupun
begitu saya tetap pasang telinga dan perhatian pada jalannya acara.

Acara khataman sendiri dari tahun ke tahun selalu dilaksanakan di gedung milik MMQ sendiri,
walaupun nampak sederhana namun gedung tersebut punya arti istimewa bagi siapa saja yang
sedang dan pernah menimba ilmu di dalamnya, yaitu merasa tentram dan bahagia, selain karena
areanya yang dikelilingi oleh rindangnya pepohonon lereng bukit, juga tentram karena orang-orang
yang pernah singgah disini pernah merasakan bagaimana nikmatnya saat menuntut ilmu didalamya.

Jama'ah meluber hingga halaman depan(foto: koleksi pribadi)

Setiap pagi dan malam sering kita mendengar suara- suara berdengung layaknya suara tawon yang
bising, namun suara bising yang satu ini adalah suara bising yang menentramkan hati , yaitu bising
suara-suara para santri dalam aktivitas pembacaan Al Qur’an setiap harinya.

Selepas acara khotmil Qur’an atau pembacaan surat-surat pendek selesai, acara pun berlanjut.
Panitia sendiri membagi acara menjadi dua bagian yaitu pra acara dan acara inti. Diperinci sebagai
berikut, untuk senandung sholawat dan khotmil Qur’an yang berdurasi sekitar satu jam setengah
masuk pada bagian pra acara, sedang untuk acara tahlil, sambutan-sambutan, prosesi wisuda,
mauidzoh khasanah dan doa masuk dalam inti acara yang direncanakan selesai nanti jam 11,50
siang. begItulah sedikit gambaran jalannya acara nanti.

Selesai acara khotmil Qur’an, acara dilanjutkan dengan pembukaan oleh MC dilanjut dengan tahlil
oleh Kyai Samhudi. Kyai yang punya keahlian dalam ilmu falaq yang berdomisili di Tiban ini kerap
memimpin tahlilan pada acara khataman di tahun-tahun sebelumnya, beliau merupakan alumni
lirboyo, boleh dibilang sebagai alumni senior yang seangkatan dengan beberapa dewan asatidz
kami.

Kyai Samhudi(foto: koleksi Benny Ardi)


Makin siang tamu undangan makin banyak yang datang. Mereka terdiri dari beberapa unsur seperti
pemerintah, beberapa perwakilan ponpes disekitaran seperti dari ponpes Yanbuul Qur’an, PQNI,
Pencaksilat Pagar Nusa, beberapa ta’lim dan juga warga muslim sekitar.

Acara tahlil dilakukan sebentar saja lalu dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Untuk sambutan
Pertama dilakukan oleh ketua pelaksana, dalam hal ini adalah Mas Saifudin dan dilanjutkan oleh
perwakilan khotimin yang diberikan kepada Mas Trimakno atau yang lebih dikenal dengan panggilan
Mohammad Qoni, dan sambutan ketiga adalah perwakilan dewan asatidz yang diberikan kepada Pak
Imam Hasan Asy’ari.

Dalam sambutannya, Pak Hasan berterimakasih kepada semua undangan yang telah hadir dan juga
beliau menginfokan bahwa sambutannya ini bisa panjang juga bisa pendek tergantung kondisi,
karena sampai sejauh ini dua tamu istimewa acara ini belum hadir, yang katanya masih dalam
perjalanan, yang sekarang posisisnya di pintu lima Batamindo. Beliau berdua yang disebut tamu
istimewa adalah Ustadz Reza Ahmad Zahid dan Kyai khotibul Umam.

Dalam sambutannya, Pak Hasan menyanjung kegigihan para santri MMQ dalam menuntut ilmu.
Salah satunya adalah Mas Qoni tadi. Bahwa santri kalau bisa meniru perjuangan maupun semangat
Mas Qoni, walau ia berstatus tidak lajang lagi namun semangatnya cukup tinggi dalam menuntut
ilmu. Walaupun sering dimarahi, dibentak saat mengaji, santri satu ini tetap bersemangat dan tidak
mudah patah arang.

Selain itu Pak Hasan tak lupa memberi selamat kepada para khotimin dan juga panitia yang telah
menggelar acara khataman ke-13 ini. Beliau menyampaikan, konon angka 13 adalah angka keramat
yang menakutkan. Namun beliau melanjutkan bahwa angka keramat tersebut kita ubah menjadi
angka keramat yang membahagiakan. Selain itu beliau juga menginformasikan tentang model
pengajaran dan juga jumlah santri yang mengaji disini, beserta dinamika lainnya tentang MMQ Jet
Tempur Batam ini. Setelah dirasa cukup, Pak Hasan pun mengakhiri sambutan yang rupanya cukup
singkat tersebut.

Acarapun dilanjutkan ke sesi berikutnya. Sejatinya saat ini adalah sesi sambutan Kyai Maftuh Basthul
Birri yang berupa selembar kertas yang akan dibacakan langsung oleh putra beliau sendiri yaitu Kyai
khotibul Umam. Berhubung Kyai khotibul Umam dan juga Ustadz Reza juga belum hadir, maka
sebagai penggantinya, sesi inipun diisi dengan tausiyah oleh Habib Syauqi bin Yahya dari Sagulung
Batu Aji Batam, demi menunggu dua alim muda tersebut hadir.

Habib Syauqi bin Yahya( foto: koleksi Benny Ardi)


Habib Syauqi mengisi tausiyah singkat saja. Sebagaiman kita tahu, habib satu ini sudah pernah
beberapa kali juga mengisi tausiyah diacara khataman MMQ ini beberapa tahun silam, kamipun
berbahagia beliau bisa hadir dan memberikan sedikit tausiyah pagi ini. Kurang lebih lima belas
menit beliau tausiyah, dua alim muda yang kami tunggu pun datang, yaitu Kyai Khotibul Umam dan
Ustadz Reza. Yang saat itu datang dari bawah dengan dibonceng motor oleh beberapa santri penjemput, maklum akses menuju tempat acara hanya bisa dicapai dengan jalan kaki dan kendaraan
roda dua saja.

Serentak para santripun berebut menyalami beliau berdua selanjutnya menyilakan beliau berdua
masuk ke ruang utama. Dan beliau berduapun langsung mengambil tempat duduk di barisan depan
dan mendengarkan tausiyah Habib Syauqi yang sedang berlangsung.
Selesai tausiyah oleh Habib Syauqi, acarapun dilanjutkan dengan sambutan pengasuh ponpes MMQ
pusat yaitu Romo Yai Maftuh Basthul Birri. Dalam kesempatan ini sambutan yang berupa secarik
kertas tersebut dibacakan langsung oleh putra ke dua beliau yaitu kyai Khotibul Umam, yang hadir
baru saja.

Sekilas penampilan kyai muda ini biasa saja, postur tubuhnya tidaklah begitu tinggi kesannya seperti
ABG saja, namun semua orang sangat menghormatinya, selain beliau anak pengasuh ponpes MMQ
Lirboyo pusat, beliau tentunya orang yang dalam ilmu agamanya. Dengan tenang Kyai Khotibul
Umam menuju panggung dan membaca sambutan romo beliau didepan para jama’ah semua.

Kyai Khotibul Umam membacakan sambutan pengasuh Ponpes MMQ pusat(foto: koleksi pribadi)


Seperti yang sudah-sudah, sambutan Kyai Maftuh dari segi bahasa terdengar khas. Bahasa Indonesia
tidak baku(baca: nonformal) sehingga mudah dimengerti. Kadang- kadang bahasanya bercampur
dengan Bahasa Jawa. Memang itulah ciri khas beliau, salah satu ulama sepuh dari tanah Jawa.

Di awal sambutannya, beliau menyambut baik acara khataman MMQ yang sudah ke-13 kalinya ini.
Selain itu kita para santrinya dianjurkan untuk tetap mengikuti ajaran-ajaran ahlussunnah wal
jama’ah, supaya menjadi orang yang selamat. Karena jamak kita ketahui banyak aliran-aliran yang
tidak jelas dalam islam ini. Dalam sambutan yang dibacakan putra beliau ini, beliau juga kadang
menyitir Sholawat Batam, salah satu sholawat yang beliau karang saat kedatangan beliau pada masa
awal pembangunanan MMQ Batam dahulu.

Tak lupa beliau mengingatkan santrinya, selain belajar Al Qur’an supaya para santri memperbaiki
akhlaknya. Dan sambutan beliaupun ditutup dengan doa, semoga kita semua bahagia dunia dan
akhirat. Selesai sambutan yang ditulis dalam secarik kertas tersebut, acarapun dilanjutkan ke prosesi
selanjutnya.

Prosesi selanjutnya adalah suatu prosesi yang sangat dinanti-nantikan oleh para khotimin. Yaitu
prosesi penyerahan syahadah, yaitu penyematan tanda kelulusan pada para
khotimin(wisudawan/wisudawati). Dalam prosesi ini diadakan penyerahan syahadah yang dibagi
menjadi tiga kesempatan.

Kesempatan pertama penyerahan syahadah untuk anak-anak TPA yang
sukses mengkhatamkan kitab a ba ta Jet tempur dan juga telah hafal Surat Annas hingga ad dukha.
Ini adalah penyerahan syahadah angkatan ke-2 bagi anak-anak. Enam anak yang diwisuda ini adalah
para anak didik dari santri MMQ yang sudah punya ketrampilan mengajar.

Wisudawan/ti anak anak(foto: koleksi pribadi)


Berikutnya adalah penyerahan syahadah kepada 19 ibu-ibu yang sudah khatam belajar kitab a ba ta
Jet Tempur juga. Ibu-ibu ini berasal dari beberapa majelis ta’lim disekitaran wilayah kecamatan Sei
Beduk ini, mereka juga para murid dari santri-santri wanita MMQ yang didukung oleh beberapa
ustadzah.

Wisudawati ibu-ibu(foto: koleksi pribadi)


Yang terakhir adalah wisuda dan penyerahan syahadah kepada para santri laki-laki dan santri wanita
MMQ sendiri. Mereka yang diwisuda adalah yang telah berhasil menyelesaikan mengaji Qur’an 30 juz secara binnadhor(membaca), langsung dihadapan gurunya selama ini. Prosesi penyerahan
syahadah masih sama dengan tahun-tahun lalu, dengan diiringi sholawat, para khotimin maju satu
persatu untuk diberi setifikat, cendramata dan dan selempangan surban secara simbolik sebagai
tanda kelulusan dan diakhiri dengan foto bersama para dewan asatidz diatas panggung.

Para khotimin terlihat mengulum senyum bahagia saat foto bersama, karena telah berhasil
mengikuti proses acara khataman ini, baik sebelum acara hingga puncaknya pada detik ini, namun
yang membuat bahagia adalah mereka telah mensukseskan perjuangan mengaji quran 30 juz dan
juga mengaji disilplin ilmu lainnya di madrasah tercinta ini.

Kesepuluh wisudawan/ti angkatan ke-13 tahun ini(foto: koleksi pribadi)


Berikut mereka tiga santri laki-laki dan tujuh santri wanita yang di telah diwisuda pada khataman
angkatan ke-13 pagi ini:

1. Juliono bin Tarmidi dari Tegal
2. Muhammad Qoni bin Sutijo Sastroharjono(alm) dari Sleman
3. Andri Isnadi bin Widi Sasmito dari Prambanan
4. Susanti binti Sido(alm) dari Madiun
5. Suci Nurhartati binti Muhadi dari Sleman
6. Puji Hernawati binti Bana(alm) dari Majalengka
7. Wulan Ningsih binti Sunardi dari Sragen
8. Romi Dwiani binti Tamiran dari Madiun
9. Riki Nurwati binti Zaeni dari Temanggung
10. Siti Choirun Amala binti Multazam dari Magelang

Dilihat dari jumlahnya, tahun ini lebih sedikit dari pada tahun lalu. Untuk khataman tahun lalu
jumlah khotiminnya 18 orang . Dan tahun ini hanya 10 khotimin, dan ke-10 khotimin inipun
berasal dari pulau jawa semua, ini berbeda dengan tahun lalu yang terdapat beberapa khotimin asal
Pulau Sumatera.


Inipun wajar, dalam menuntut ilmu naik turun baik dari segi jumlah maupun
motivasi seseorang. Dan seleksi alam yang akan menjawabnya, kita bertahan sampai tujuan atau
gugur ditengah jalan? Semoga kita tetap istiqomah dalam bertolabul ilmi ataupun kebaikann lainnya.
Siapa tahu dengan kuantitas yang kecil namun terdapat kualitas yang besar dan bukan sebaliknya.
Semoga kedepan bisa berbanding lurus antara kuantitas dengan kualitasnya, sama sama tinggi.
Wallohu’alam.

Usai penyerahan syahadah, sampailah acara pada acara inti yaitu mauidoh Hasanah, dan pada
kesempatan yang istimewa ini sebagai penyampai adalah Ustadz Reza Ahmad Zahid pengasuh
Ponpes Al Mahrusiyah Lirboya Kediri. Beliau merupakan putra dari KH Imam Yahya Mahrus(alm)
yang juga pernah berkunjung ke MMQ Batam saat menghadiri khataman si penulis dan rekannya
tujuh tahun silam.

Ustadz Reza Ahmad Zahid(foto: koleksi pribadi)


Ustadz Reza ini masih muda dan seumuran dengan Kyai Khotibul Umam, nampak dari intonasi
suaranya yang kuat saat menyampaikan ceramahnya siang ini. Diawal ceramahnya, beliau tak lupa
memberi selamat kepada seluruh khotimin atas diwisudanya mereka pagi ini. Beliau juga
menyampaikan faedah-faedah menjadi ahli Qur’an, yang mana Qur’an ini akan menjadi Shodiqun
Mussyafak atau pemberi syafa’at kelak ila yaumil akhir. Al Qur’an akan memberi barokah kepada siapa saja yang membaca dan yang mengamalkannya. Ustad Reza sekali kali menyelingi tausiyahnya
dengan banyolan-banyolan ala pesantren yang membuat para jama’ah merasa terhibur.

Selain menyampaikan tentang faedah Al Qur’an, beliau juga menganjurkan kita untuk mencari ilmu
di pondok-pondok yang sesuai dengan ahlus Sunnah wal jama’ah dengan sanad yang benar-benar
menyambung ke Rosululloh. Kadang beliau memberi contoh kehidupan para wali Alloh dengan sifat
ketawadu’annya. Dan salah satu yang beliau contohkan adalah kehiduapan Syech Abdul Rohman
Bajalhaban dari Hadramaut.( Tausiyah Ust Reza secara lengkap bisa di baca pada link diakhir tulisan ini)

Banyak hal yang diangkat oleh beliau dalam tausiyahnya, tak terkecuali cerita lucu dipesantren
lirboyo. Saking lucu dan menariknya tausiyah beliau yang lamanya satu jam lebih, masih terasa
kurang bagi jama’ah yang hadir. Namun sesuai rundown acara, maka tepat pukul 11.50 acara
mauidhoh khasanah pun diakhiri dan dilanjut dengan doa. Usai dibacakan do’a maka keselurahan
acara khataman pagi ini ditutup dengan ramah tamah atau makan-makan. Untuk para asatidz dan
tamu undangan acara ramah tamahnya di pondok bawah depan masjid Muhajjirin, sedang kami para
santri dan lainnya tetap di tempat acara pagi ini.

Acara ramah tamah berlangsung dengan suka ria dengan dihibur iringan sholawat dari tim sholawat
kebanggaan MMQ, Syifa’ul Qolbi. Penampilan grup sholawat Syifaul Qolbi agak beda dengan tahun-
tahun sebelumnya. Sekarang mereka memakai seragam baru berwarna biru dan tampak lebih teduh.
Sedang para khotimin menggunakan kesempatan ini untuk berfoto bersama di panggung, demi
mendapakan foto terbaik sebagai kenangan.

Grup sholawat Syifa'ul Qolbi dengan seragam barunya(foto: koleksi pribadi)

Rasa bahagia terpancar dari wajah-wajah para khotimin
yang sedang berfoto bersama ini. Apa yang disampaiakan Pak Hasan bahwa angka tiga belas adalah
angka keramat yang membahagiakan pun terbukti disini. semuanya berbahagia.

Demikianlah tulisan ini saya buat, semoga bisa dijadikan kenangan dan pengingat dimasa yang akan
datang. Sebelum saya tutup tulisan ini, berikut beberapa fakta yang ditemukan penulis saat acara
khataman angkatan ke-13 pagi ini:

1. Untuk Pertama kalinya khataman angkatan ini menciptakan logo angkatan dengan
    motto”Azimat” yang artinya berketetapan hati dan berkemauan kuat.
2. Adanya seragam baru dan logo baru untuk grup sholawat Syifa’aul Qolbi.
3. Diwisudanya ibu- ibu dari ta’lim didikan santi MMQ untuk pertama kalinya(angkatan
    Pertama).

Akhirnya saya ucapkan selamat kepada para khotimin dan juga para santri yang telah sukses
melaksanakan acara Khataman angkatan ke -13 ini. Semoga kita semua menjadi orang orang yang
mau mengingat dan bisa mengambil pelajaran yang terkandung dalam Al Qur’an, seperti bunyi surat
Al Qomar ayat 17 yang tertempel di backdrop panggung saat acara:

Ayat 17 dalam Qs. Alqomar(foto: koleksi pribadi)



                         “ Walakod Yassarnal Qur'ana liddikri fahal min muddakkir”

Artinya “Dan sesungguhnya telah kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran( pengingat), maka
adakah orang yang (mau) mengambil pelajaran?”


___*****___ 


Berikut Momen-momen menarik lainnya:

Tamu undangan sangat antusias walaupun duduk lesehan di jalan(foto: koleksi pribadi)




Jama'ah akhwat didepan kelas Aliyah( foto: koleksi pribadi) 



Undangan yang sampai dirumah penulis( foto: koleksi pribadi)



Dewan asatidz dan tamu undangan( foto: koleksi pribadi)



"Azimat" logo khotimin  angkatan ke-13


Makanan ringan yang telah siap untuk dihidangkan( foto: koleksi pribadi) 



Tanda pengenal sebagai panitia( foto: koleksi pribadi)



Hadiah hadiah dan cenderamata( foto: koleksi pribadi)



Loggo grup sholawat Syifa'ul Qolbi yang baru tercipta tahun ini( foto: koleksi pribadi)



Penerima tamu akhwat (foto: koleksi pribadi)



Stiker dan minuman siap dibagikan( foto: koleksi pribadi)



Kyai Khotibul Umam(tengah) merokok sejenak disela acara(foto: koleksi pribadi)



Sambutan pengasuh Ponpes Lirboyo pusat, klik untuk memperbesar (foto: koleksi pribadi)

Baca Juga:

Tausiyah Ust Reza (Bagian 1)
Tausiyah Ust Reza (Bagian 2)
Tausiyah Ust Reza (Bagian 3)


Batam, 14 mei 2017/17 sya’ban 1438H


Wassalam.

2 comments:

  1. Siip Mas broo, Bagus jg buat nambah informasi dan wawasan, klu boleh saran, lain kali bisa di padatkan lg cara penyampaiannya, biar lbh menarik buat pembaca. Jadi sekali isap pembaca lsg bisa menyerap pesan ataupun nilai nilai yg ingin di sampaikan penulis. Tapi secara keseluruhan uda bagus, cukup detil..semangat mas bro...moga bermanfaat buat pembaca.

    ReplyDelete
  2. trims masukkannya mas Anto, akan kita perbaiki kedepan. btw trims sudah mampir.

    ReplyDelete

 gambar tematik sdit kelas satu