Sunday, 7 January 2018

Tausiyah Ustadz Reza Dalam Khataman MMQ JET TEMPUR Batam angkatan ke-13 tahun 2017 (BAGIAN 3/HABIS)

Lebih tepanya pondokkan ke pondok pesantren yang betul-betul diasuh oleh para kyai, para khabaib
para asatidz yang beraliran ahlusunnah waljama’ah. begini para hadirin, ketika salah memondokkan
anak kita, maka paling yang mendapatkan tanggung jawab itu adalah orang tua, anak itu adalah
tangung jawab orang tua, anak itu walaupun toh didalam Al Qur’an itu dikatakan sebagai nikmat,
anak itu didalam Al Qur’an walaupun toh dikatakan sebagai zina, sebagai perhiasan, di dalam Al
Qur’an itu dikatakn zuyyina linnas hubbusyahawat minannisai wal banina walqonatiril
muqontoroti minal dahabi wal fiddoti wal khoilil musawwamati wal an’ami wal harsi, dhalika
mata’ul khayatitdunya, wallohu indahu khusnul ma’ab(Qs.Al Imron 14).

Disitu dikatakan di dalam Al Qur’an, manusia itu diberi perhiasan, perhiasan syahwat. Dan syahwat
yang paling besar, itu adalah syahwat kepada an nisa. Kepada perempuan, manusia itu kalau sama
perempuan subhanalloh , ora iso ngempet poro rawuh, betul ? opo meneh wong lanang. Wong
lanang iku nek dikongkon milih antarane dunyo karo wong wedok ,niku mesti milih wong wedok.
Betul nopo mboten pak? betul. kulo takon teng nggone bapak-bapak, sampean nek dikongkon milih
emas sak karung. Emas sak karung tapi syarate siji, gak oleh rabi saklawase. Ojo ngguyu disek, atau
wong wedok mlarat , lho gak patek ayu, sing penting disawang tasurna, sedep nyenegno tapi mlarat,
sampean milih pundi? Wong wedok opo bondo? Wedok opo bondo? Wedok… pingin gak rabi? rugi
lek sunat.

Mestine milih wong wedok, nggih pancene bedo karo ibu-ibu, berbeda dengan perempuan. Kalau
perempuan itu memang sukanya itu bondo, sukanya itu perhiasan. Jadi sebenarnya perempuan itu
menikah dengan kalian itu gak pateko sreg dengan wajah kalian, sebenarnya seperti itu. Wis gak
delok iki ganteng opo elek, iki manis opo gagah, gak. Yang pasti itu lebih suka laki-laki ini bijaksana
atau tidak , laki-laki ini sugih apa tidak. Betul!? Betul nopo mboten bu? Betul nggih? Betul! Maka di
dalam Al Qur’an. Coba sampean lihat apa ada seorang perempuan kalau masuk surga dapat
bidadari? Gak ada! Lesbian itu namanya, gak ada di surga itu melakukan bentuk lesbi. Kalau laki-laki
masuk ke surga, dapat bidadari. Kalau perempuan masuk ke surga disitu dijanjkan oleh Alloh,
perempuan akan dikasih perhiasan oleh Alloh, perhiasan emas-emasan, perak, sutra, diberi mahkota
yang mulia, yang Indah oleh Alloh SWT.

Itu kalau mereka masuk ke surganya Alloh…. gak ada bidadari. Bidadarapun juga tidak ada. Karena
perempuan kalau disuruh milih. Sampean disuruh milih bu, coba dijawab dengan jujur dan jawaban
ini betul-betul dari hati panjenangan, dari lubuk hati paling dalam, kalau jawab gak jujur, saya
do’akan tangannya mlungker. Ibu-ibu yang hadir disini, kalau disuruh milih antara emas sekarung,
tapi syaratnya gak boleh nikah selamanya. Atau seorang laki-laki guanteng…, gagah, putih, bersih,
tinggi, macho, tapi mlarat, tapi agak ngileran sedikit. Sampaean milih mana bu? Milih emas nopo
wong lanang ngileran? Emas tho? Emas. Lho ini sudah menjadi firkoh, firkoh dari Alloh SWT untuk
seorang perempuan. Jadi saya pesan kepada bapak-bapak , kalau ibu-ibunya itu minta diberikan
perhiasan, minta dibelikan emas, dibelikan perak, dibelikan kalung, mohon dituruti. Ketika bapak-
bapak tidak menuruti permintaan ibu-ibu, itu berarti melawan firkohnya orang perempuan dari
Alloh SWT.(ibu ibu serentak bertepuk tangan).

Karena memang firkohnya perempuan seperti itu, dia diciptakan untuk berhadapan dengan dunia,
dia diciptakan untuk berhadapan dengan perhiasan. Orang perempuan itu kalau melihat laki-laki itu
sebenarnya pingin muntah kok. Betul buk nggih? ketika sampean melihat laki-laki gagah, kekar
badannya, penuh berisi, penuh berotot bina rangka, bina raga. Bueh mletot kabeh, item keling-
keling, di tengah jalan kira-kira ibu-ibu langsung tutup mata atau tutup mata? Tutup mata pingin
ngungkapkan. Beda sama laki-laki, ada orang gila cantik di pinggir jalan, diambil, begitu toh gak
begitu bening rodok burek titik ngunu diambil. Diumbah, habis diumbah terus dipakai. Ini kalau laki-
laki karena memang dihadapkan dengan syahwatnya kepada perempuan, maka dari itu saya pesen
kepada ibu-ibu, kalau bapak-bapaknya minta dicarikan teman lagi mohon dicarikan lagi( gerrrr
disambut tawa para bapak bapak semua)

Ustadz Reza saat di pondok Bagan (foto: koleksi Ustadzah Asti)

Ketika kalian ibu-ibu tidak mencarikan lagi bapak-bapak, berarti melawan firkoh dari Alloh untuk
melawan laki-laki, sepakat pak? sepakat pak? ( “sepakattt” jawab bapak-bapak srentak) bu sepakat
mboten? ( “Mboten…” jawab ibu-ibu berbarengan) ikiloh gak senenge wong wedok, yen ngene iki
loh. Tadi kelihatannya sudah seneng tadi yuhhh tepuk tangan masya Alloh. Ya begitulah para hadirin,
pinginnya menang sendiri. Pinginnya itu pokoknya diturutin sendiri, memang tidak ada laki-laki yang
bisa menyentuh hatinya seorang perempuan kecuali laki-laki yang tangguh .
Tapi ingat walaupun toh perempuan sifatnya seperti itu, istri-istri kalian sifatnya sepert itu tapi ingat
merekalah yang bisa menjadikan kalian seorang wali, kalau ndak perempuan kalian tidak menjadi
wali murid. Hanya perempuan saja yang bisa menjadikan kalian ini menjadi wali. Maka berterima
kasihlah kepada perempuan .

Dulu itu ada seorang ulama besar, seorang syech besar yang bernama Syech Abdul Rahman Bajal
Haban salah seorang ulama yang berada di antara kota Tarim dan kota Saikhun di Hadramaut.
bernama Syech Abdul Rohman Bajal Haban. Syech Abdul Rohman ini adalah seorang wali, tapi
beliau tidak tahu kalau dirinya adalah seorang wali. Kehebatan beliau menjadi seorang wali karena
apa? Karena sifatnya sabar, sifat sabar dari siapa? Dari istrinya. Konon beliau memilik istri yang
cerewetnya luar biasa. Beliau memiliki istri yang cerewetnya dapat penghargaan istri yang paling
cerewet diantara istri-istri yang lain di daerah Hadramaut. Bisa dikatakan istri tercerewet di
Hadramaut. Sampai terkenal istri nomer satu paling cerewet, istri paling judes yang judesnya
naudhubillah minha, luar biasa. Salah satu contohnya Syech Abdul Rohman ini pernah kedatangan
tamu, pernah kedatangan tamu .

Syech Abdul Rohman Bajal Haban ini melihat ke dapur hanya melihat satu lauk-pauk ada nasinya.
Lainnya, tidak ada makanan yang bisa dihidangkan kepada tamunya. Diambilah itu makanan,
diberikan kepada tamunya, dan akan dimakan sama tamunya , istrinya keluar dari kamar lihat di situ,
“lho itu makananku untuk nanti siang, aku gak punya makanan lagi kecuali itu”. Tamunya itu
langsung disamperin sama istrinya Syech Abdul Rohman Bajal Haban. Dia bilang kepada tamunya
“mohon maaf pak tamu ini makanan saya, suami saya gak punya makanan, dia tidak berhak
memberi makanan kepada kamu, Ini makanan saya, mohon maaf ini saya ambil”. Ada istri yang
seperti itu di sini? Ada yang seperti itu istrinya pak, ada?

Abdul Rohman Bajal Haban ini adalah seorang yang khusyuk sama seperti suami-suami yang hadir
disini. Kaku ben isuk. Khusuk, khuduk, tawadhuk, sama seperti suami-suami yang ada disini tawadhu’“Tahu kalau ada duwit”. Ini Syech Abdul Rohman ini gak punya pekerjaaan, kerjannya hanya mengaji, kerjaannya hanya ke masjid , kerjaannya hanya ke musholla untuk membaca Al Qur’an. Kerjaannya hanya ngaji kalau ada yang ngundang mengaji, ada berkat dibawa pulang, gak ada berkat ya sudah nggak apa-apa. Dikasih alhamduluillah gak dikasih yo rapopo….ya begitulah seorang ulama yang hakiki yang sebenarnya, yo seperti itu, seperti Syech Abdul Rohman Bajal Haban.

Dawuh Saydina Ali Karomallohu Wajhah. Termasuk golongan ulama itu yang melakukan tiga hal.
Yang Pertama la yakh suda man fauqohu, yang kedua la yakh qiro mandunahu, yang ketiga la yabtaghiya bi ilmihi samanan. La yakh suda man fauqohu tidak hasud pada orang yang pangkatnya ada diatasnya.
Jadi seorang kyai yang disebut ulama, seorang ulama yang ngalim, katanya Saydina Ali Karomallohu
Wajhah la yak suda man fauqohu. Tidak hasud kepada orang yang pangkatnya lebih mujur dari
padanya. Tidak iri kepada kyai yang nasibnya lebih baik darinya. Kalau ada orang yang mendapatkan
nikmat, ia tidak hasud malah justru ia mengatakan alhamdulillah, ada kyai malah bentuknya
sebaliknya. Ono kyai tumpangane mobile apik. Bolak balik ditekani pejabat. Ono kyai bolak balik
ditekani santri, Itu kyai yang satunya tidak pernah ditamoni siapa-siapa bilang kepada orang-orang”
kyai kok mainannya mobil, itu pasti kyai yang punya peliharaan tuyul”. Ada yang bilang seperti itu?”
kyai kok istrinya banyak ini pasti, ini pakai ilmu guna-guna”, jangan di hasud, biar mereka hidupnya
banyak karena nasib kita bisanya cuma sekian, sudah segitu saja.

Hasud, kyai yang bener gak pernah hasud. La yakh qiro mandunahu. Jadi jangan meremehkan
orang yang pangkatnya dibawahnya. Ia tidak pernah mengatakan kamu itu siapa? sudahlah gak usah
banyak ngomong. lha wong kamu itu orang bodoh kok, dia gak pernah menghina. Kepada orang
yang pangkatnya dibawahnya, kamu itu kyai ndeso , iniloh kyai kota, kamu itu kyai kampung ini lho
kyai kota. Ada kyai yang seperti itu disini pak?

KH. Imam Yahya Mahrus (1949-2012) romo dari Ustadz Reza(foto: koleksi pribadi, diambil dari sebuah kalender) 


Yang terakhir wa layab taghiya bi ilmihi samanan , dia tidak mengharapkan apapun dari ilmu yang
telah dia sampaikan, ini sulit, kalau diundang gak ngarep-ngarep berkat, kalau diundang gak pasang
tarif, wani piro kamu undang saya itu wani piro? Saya ini satu jam ini puluhan juta lho ya? Ada kyai
yang seperti itu, pasang tarif kemudian mengharapkan sesuatu pemberian dari orang yang
mengharapkan ilmunya, ini bukan kyai, bukan ulama menurut Saydina Ali Karomallohu Wajhah.
( kategori 3 ulama diatas bisa dilihat dalam kitab Sunan Addarimi 298)

Abdul Rohman Bajal Haban ini orangnya seperti itu, sampai-sampai dia jatuh miskin nggak punya
apa-apa, tapi tetap dijalani. luar biasanya, ketika ia masuk kedalam rumah habis selesai dari acara,
istrinya tanya lagi” Mas gowo opo?” “Gak gowo opo opo e dik? Gowo berkat, mau wis tak kekno
arek-arek” ,” lho terus saiki nggowo opo? …ngowo duwit opo ora?”’Yo ora gowo duwit, wis tak
kekno sodaqoh jariyah nang nggone masjid”. “Ora nggowo, papa ora nggowo opo-opo, abang gak
bawa apa-apa”, Ditentang sama istrinya , “wis rausah turu nang omah, metuo teko omah”….Syech
Abdul Rohman Bajal Haban kemudian memutuskan, “Ya sudahlah dari pada saya diomeli terus sama
istri seperti ini aku tak menyendiri saja kalau begitu, mau tidur dirumah gak boleh, mau pulang
ditendang karena gara-gara gak bawa apa-apa”
Pergilah dia..

( sampai disini sya tidak mendengarkan ceramah, karena mengejar anak saya yang main)

Di sebuah tempat dengan niatan bertapa, sebelum duduk, Syech Abdul Rohman Bajal Haban itu
melihat sebelah kanannya itu ada seorang laki-laki yang juga bertapa, sebelah kirinya pun ada orang
yang sedang bertapa, yang sedang berkholwat. Syech Abdul Rohman bajal Haban berbicara didalam
hati “orang ini siapa ini? sudah berapa lama mereka disini?” Yang sebelah kanan kemudian
didatengin “Ya fulan bin fulan kamu lagi ngapain disini” “Aku berharap mendekatkan diri kepada
Alloh” ‘Kamu sudah berapa hari disini?” “Sudah lama lah aku disini aku sudah berbulan-bulan di sini”

kata Syech Abdul Rohman Bajal Haban “Kamukan sudah lama disini, lah disinikan jauh dari pasar,
jauh dari Indomaret, jauh dari Alfamart, tukang ojekpun tidak ada di sini, kalau kamu lapar kamu
makan apa? Disinikan padang pasir, masa pasir yang kamu makan? Disinikan jauh dari sumur gak ada air, kalau kamu haus ? apa yang kamu minum?” Kalau yang lagi ngomomg sekarang ada minuman di depannya jadi gak repot-repot, kamu? “Di padang pasir jauh dari minuman terus kamu mau minum apa? Di depan kamukan ada aqua kan bisa diminum kamu gak punya aqua terus mau minum apa?” Ini kemudian orang laki-laki yang ditanya oleh Syech Abdul Rohman Bajal Haban ,”Gampang …tinggal minta berdoa kepada Alloh biwasilathi Syech Abdul Rohman Bajal Haban maka seketika itu Alloh mendatangkan rasa, rasa wareg”, rasa…nopo wareg niku bahasa Indonesianya ? kenyang, wareg wae gak ngerti. Alloh mendatangkan rasa kenyang dan Alloh menghilangkan rasa dahaga hanya dengan berdoa kepada Alloh dengan wasilah Syech Abdul Rohman Bajal Haban.

Syech Abdul Rohman ini kaget “lhukkk nama saya laku dipakai, kok bisa orang lain pakai nama saya
sebagai merek untuk washilah, Alloh langsung mengijabahi”, terus saya tanya “Kamu kenal dengan
Syech Abdul Rohman Bajal Haban?” “Saya gak pernah ketemu, tapi dia orang yang sangat
masyhur”,“Masyhurnya kenapa memang ?” ”Karena dia punya istri yang super cerewet tapi dia
sabar luar biasa”

Kemudian Syech Abdul Rohman Bajal Haban mendatangi yang sebelah kirinya dengan pertanyaan
yang sama, jawabannya sama. Semakin yakin Syech Abdul Rohman Bajal Haban berarti saya ini laku, berarti saya ini laku. Pulanglah Syech Abdul Rohman mendatangi istrinya, “Eh istriku emang kau minta apa ?” “Udahlah gak usah janji-janji, memang punya uang?, punya uang gak? Gak punya, terus kamu mau ngapain pake janji-janji, saya mau minta banyak hal, kamu sanggup membelikan? Enggak sanggup”. “Terus apa yang akan kamu lakukan?” “Aku akan berdoa kepada Alloh dan meminta kepada Alloh agar semua kebutuhanmu dicukupi oleh Alloh SWT”. “Gombal! janji-janji tok”.

Memang laki-laki, ibu-ibu suka berjanji, jangan percaya dengan mulut laki-laki karena semua mulut
laki-laki adalah mulut buaya, kalau mulut perempuan berbisa, tapi kalau mulut laki-laki itu buaya ,
laki-laki suka berjanji, semau laki-laki yang ada disini semuanya buaya, kecuali saya dengan Habib
Syauqi.

KH.Imam Yahya Mahrus(tengah, batik hitam putih) saat menghadiri wisuda sipenulis tahun 2010 silam( foto: koleksi pribadi, diambil dari sebuah kalender)

Maka waspadalah dengan laki-laki. Tapi saya herannya perempuan itu walau dijanji-janjiin kok yo sik
manut ngono yo?Woi dik tunggunen telung wulan tak tukno sepeda montor”.” Janji yo mas?” “Iyo
iyo” Manut ae saya heran perempuan ini Masya Alloh. Lho itu Syech Abdul Rohman Bajal Haban
bilang seperti itu kepada istrinya. “Sudah dikkk apa yang kamu minta pasti di kasih oleh Alloh”.
Tenan lho mas”. “Iya”. “Percaya to mas?” “Iya…kamu minta apa sudah sini aku catet apa saja”.”Ini
lho mas aku pingin seperti tetangga-tetangga. Tetangga-tetangga itu, ininya bagus-bagus, emas,
kemudian gelangnya juga bagus-bagus, ada berlian, ada jamrudnya , itu cincinnya tetangga-tetangga
itu bagus-bagus, ada blue safir ada jamrud, gak ada yang black jack bulu macan. Gak ada! Bagus-
bagus. Aku pingin seperti itu. Aku pingin pakaian-pakaian yang bagus.

Kain dari sutra, bukan seperti ini kain bekas sarungmu aku pakai. Wis bolong-bolong bekase latu rokok pisan. Aku pingin mempercantik diriku mas, aku ingin berselok mas, berselokk? Bersolek mas aku ingin bersolek dan kelihatan cantik gitu lho mas, walupun toh pas-pasan tapi kan seneng mas punya istri seperti aku”.

Akhirnya para hadirin para pemirsa. Itu yang disampaikan oleh istrinya Syech Abdul Rohman Bajal
Haban. Syech Abdul Rohman Bajal Haban langsung menadahkan tangan kepada Alloh SWT. “Ya
Alloh engkau maha mendengar aku, apa yang diucapkan oleh istriku ini ya Alloh engkau ijabahi, apa
yang diminta istriku ini ya Alloh engkau ijabahi, kabulkan do’akau ya Alloh”.
Subhanalloh ditunggu-tunggu sama istrinya. “Mana emasnya mas, mana peraknya mas?” “Sebentar
to dik sebentar saja” .

Subhanalloh, dalam waktu yang dekat, santri-santri Syech Abdul Rohman
Bajal Haban ini berdatangan, ada santri datang yang kebetulan dia punya toko emas, bilang kepada
Syech Abdul Rohman Bajal Haban, “Kyai, ini saya sedang zakat emas, kyai, ini ada gelang ada kalung mungkin cocok untuk ibu nyai”. Enak tho?


( Sampai disini saya tidak bisa mendengarkan ceramah ust Reza lagi karena anak saya sudah lari
kebawah minta main prosotan, saya meminta maaf pada pembaca sekalian atas ketidak komplitan
tulisan ini, namun semoga yg sedikit ini bisa sebagai bahan Mudzakaroh )



Catatan: sekiranya ada dalil yang penulisan kurang pas mohon dikoreksi, itu semata-mata karena
kekurangan dari penulis belaka.


Baca juga: Anak bulan auu...!


Batam, Ahad 14 Mei 2017 atau 17 Sya’ban 1439 H

Wassalam



Monday, 18 December 2017

Tausiyah Ustadz Reza Dalam Khataman MMQ JET TEMPUR Batam angkatan ke-13 tahun 2017 (BAGIAN 2)

Makanya dulu itu ada seorang santri itu minta ijazah itu ke saya, lho inikan sudah salah kaprah,
minta ijazah ke saya. Kalo minta jaksah ke saya bisa. Kalau minta ijazah sebenarnya kepada beliau
Kyai Khotibul Umam, ini minta ijazah ke saya, tujuannya apa? saya tanya buat apa?” buat melihat
perempuan langsung terkapar pada saya”. inikan sulit, saya saja gak bisa seperti itu. Akhirnya saya
bilang kepada teman saya ini. Santri Lirboyo, masih baru mondok dapat satu bulan macam-macam
minta amalan seperti itu.

Akhirnya saya kasih tahu kamu hafalkan apa yang saya katakan, gak boleh dicatet, sepakat? Sepakat!
Bismilahhirohmanirrohim. ini doa agar cepet dinikahakan oleh Alloh SWT. Bismillahirohmanirohim.
Ya Alloh ya robbi tiga kali, digowo-gowo gak dirabi rabi, masak doanya kayak gitu? Ya sudah itu doa dibaca didepan perempauan, pasti perempuan akan mengejarmu, embuh krono opo. Dadi pripun
Pak Agus? Ya Alloh ya robbi digowo-gowo gak dirabi-rabi. In sya Alloh dalam waktu dekat dijodohke Alloh SWT. Amin ya robbal alamin.

Kehebatan bahasa Arab, kita kembali ke bahasa Arab, kita kembali ke bahasa Arab, Al Qur’an itu
dengan memakai bahasa Arab, sehingga menyebabkan bahasa Arab mendapatkan barokahnya Al
Qur’an dan sehingga bahasa Arab memiliki kehebatan yang luar biasa bila dibandingkan dengan
Bahasa-bahasa yang lainnya. Walaupun toh kita tidak mengerti artinya, tapi bahasa Arab secara
otomatis memiliki ikoni yang luar biasa.

Al Qur’an tidak hanya memberikan barokah kepada bahasa yang digunakan oleh Al Qur’an, Al
Qur’an memberi barokah ke siapa saja, kepada sintenke mawon, yang membacanya, lebih-lebih
kepada yang mempelajarinya. Setiap huruf di dalam Al Qur’an. Sak huruf didalam Al Qur’an. Alloh
memerintahkan malaikat untuk menjaga. Satu huruf satu malaikat, bukan satu ayat satu malaikat,
tapi ketika dikatakan alif laaaaam miiiiiiim, itu alifnya satu malaikat, lam nya satu malaikat, mimnya
satu malaikat. Jadi barang siapa berkali-kali membaca Al Qur’an, maka berkali-kali ia mendapatkan
doa dari para malaikat.

Walaupun toh satu ayat, malaikat sudah mendoakan. Tidak hanya sekedar malaikat yang nangkring
di huruf-huruf Al Qur’an, tapi Al Qur’an itu sendiri dikatakan oleh rosululloh SAW, bahwasannya Al
Qur’an itu Sadiqun Mussyafa’, Al Qur’an itu adalah Sadiqun Mussyafa’ yang artinya Al Qur’an itu
bisa memberi syafa’at dan juga Al Qur’an bisa dimintai syafa’at. Bisa nolong juga bisa dimintai
tolong. Bahkan Al Qur’an tadi bisa memintakan tolong pada Alloh agar Ahlul Qur’an itu diberi
syafa’at oleh Alloh SWT.

Jadi besok dihari akhirat Al Qur’an itu akan diwujudkan oleh Alloh layaknya mahluknya Alloh yang
mulia, layaknya mahluknya Alloh yang penuh dengan kewibawaan. Al Qur’an memiliki sinyal yang
luar biasa bagi siapa saja yang ahlul Qur’an, bagi siapa saja yang pernah membacanya, Al Qur’an
akan memanggilnya, Al Qur’an akan menggiringnya untuk masuk kedalam surganya Alloh. Kelihatan teko batuke mencorong kabeh siapa yang alhlul Qur’an, siapa yang menjadikan Qur’an sebagai imamnya, maka Al Qur’an akan tahu besok di akhirot, oh ini batuke ngecap Qur’an, oh iki batuke cap Yasin eh iki batuke iki cap Al Baqoroh, iki batuke cap Ataubah, iki batuke juz amma, iki batuke Anisa’. Kroso ono Nisa’ wae batuke. Ketok, kelihatan yang pada akhirnya Al Qur’an akan menggiring orang orang dapat masuk ke surganya Alloh.

Dan sebaliknya kalau seandainya batuknya burek, ireng ono cape tapi gak ono cahayane, ngecap tapi gak ono cahayane. Masya Alloh, Al Qur’an akan tahu apa isi yang di dalam batuk-batuk tersebut. Yang pasti Al Qur’an akan melemparnya masuk kedalam nerakanya AllohSWT. Ini hebatnya Al Qur’an, siapapun yang membaca Al Qur’an dan dia menjadi ahlul Qur’an ia akan memberikan syafa’at kepada keluarganya. Dados poro rawuh, putro putri panjengan sedoyo yang tadi dijejer baris di depan sini subhanalloh. Ini njenegan jaga sampai tuanya, sampai meninggalnya jangan sampai dia tidak menjadikan Al Qur’an jadi imamnya.

Ustad Reza(tengah) saat di Pondok Bagan bersama dewan asatidz(foto: koleksi Bu Asti)


Jangan sampai dia menyeleweng dari Al Qur’an, ketika Al Qur’an menjadi imamanya. Maka besok
kelak nanti dihari akhirot akan mensyafaati kedua orang tuanya. Dadi wong tuwane ditolong karo
anake. Kejadian riel di akhirot ada orang tua, dua orang tua masuk kedalam nerakanya Alloh. Ada
seorang anak bilang kepada Alloh minta agar kedua orang tua ini dimasukkan kedalam surganya
Alloh. Kedua orang tua itu kemudian bertanya kepada malaikat. “Siapa itu ya malaikat? Wahai jibril
siapa itu orang yang menyelamatkan saya?, orang yang pemuda menyelamatkan saya, dan kenapa
saya masuk kedalam surganya Alloh?” , jawab malaikat Jibril, “engkau masuk kedalam surganya
Alloh bukan karena engkau ahli ibadah, ibadahmu gak cukup untuk menjadi modal karcis masuk
kedalam surganya Alloh. Engkau tak punya modal apa-apa, tapi yang menyebabakan engkau masuk
kedalam surganya Alloh, karena apa? Karena engkau punya anak, yang anakmu itu masuk kedalam
jajaran orang orang ahlul Qur’an. Sehingga engkau dimasukkan oleh anakmu sendiri kedalam
surganya Alloh, dan yang memasukkan kamu, yang memanggil kamu, yang mintakan syafa’at kepada Alloh untukmu itu adalah anak-anakmu yang alhlul Qur’an”.

Jadi putro putri panjengan sedoyo niki poro rawuh, tadi yang ada di depan sini In sya Alloh akan
menjadi ahlul Qur’an. Dan dijaga karena, itu adalah modal yang betul-betul modal yang bisa
mengantarkan kita untuk masuk kedalam surganya Alloh SWT. Apa sih modal panjenengan semua?
Untuk masuk kedalam surganya Alloh yang panjenengan dengan yakini? Apa yang anda yakini dalam bentuk ibadah kalian sehingga ini menjadi modal saya untuk bisa masuk surganya Alloh. Apakah kalian yakin? Kalau sholat kalian diterima aleh Alloh, ada yang yakin 100 persen? Apakah kalian yakin puasa kalian diterima oleh Aloh SWT? Tidak ada yang yakin. Tidak ada yang yakin.

Shohabat Umar bin Khottob seorang khalifah, seorang sahabat rosul yang mulia, masuk ke surganya
Alloh bukan karena sesuatu yang telah dilakukan dalam bentuk-bentuk ibadahnya yang
diistiqomahkan oleh beliau. Ada seseorang bertanya kepada Umar bin Khottob. Ketika Umar bin
Khottob masuk ke dalam syurganya Alloh. Wahai Umar bin Khottob ia melihat Umar di dalam mimpi. “Wahai Umar engkau masuk surganya Alloh, apa amal yang membuat kamu masuk ke dalam
surganya Alloh ? apakah ibadah kamu, apakah sholat kamu?, puasa kamu ?” jawab Syaidina Umar,
“bukan”. “Apakah kamu masuk surganya Alloh karena sifat adilmu? sifat bijaksanamu? Ketika
memimpin umat ini?” Kata Syaidina Umar, “bukan”. “Apakah engkau masuk surganya Alloh karena engkau menjadi kholifah menggantikan posisi rosululloh untuk memimpin umat ini?” Kata Saydina Umar “bukan”. “Terus opo Saydina Umar?”

“Jadi begini ceritanya”, kata Saydina Umar “Ketika aku menjadi kholifah dan aku jalan-jalan di
perdusunan. Aku lihat ada seorang anak kecil memainkan manuk emprit , burung emprit” . Jadi anak
kecil itu punya burung. Burung emprit, tahu burung emprit ibu nggih, bu tahu tho burung emprit?.
Kecil warnanya coklat. Emprit kan coklat, iya ,gak ada emprit yang putih.

Itu Saydina Umar melihat anak memainkan emprit, bermain dengan manuk emprit, bermain dengan
burung emprit atau burung gereja. “Itu burung” kata Saydina Umar “burung itu dibolak balik,
dilempar sana, dia jatuh ke bawah, kemudian diputer-puter kepalanya”. Kalau seandainya burung itu
bisa misuh, misuh tenanan. Kalau andainya burung itu bisa ngidoni, ngidoni tenanan. Tapi dia tak
punya daya, tapi yang pasti burung emprit itu punya perasaan, “ya Alloh pusing kepala ini ya Alloh,
diputer-puter sama anak kecil ini ya Alloh, mabuk darat hatiku ini ya Alloh, diputer-puter sama anak
kecil ini ya Alloh”.

Saydina Umar tahu perasaannya manuk emprit tersebut, didatangilah anak kecil itu, diajak negoisasi
sama Saydina Umar, “hai anak kecil, ini manuk kepunyaanya siapa? Ini burung burungnya siapa Ya?
burung saya, saya minta ya?” Jangan! Sampeankan punya burung sendiri. Jangan, jangan diambil”,
“Ya sudah kalau kamu tidak mau burung ini saya ambil. Ya sudah kamu wani piro? Tak tuku
burungmu. Saya beli burungmu”. “Lha saya minta sekian dinar, saya minta sekian dinar, saya minta
lima dinar”. Masya Alloh burung emprit harganya lima dinar. Harganya lima dinar. Berapa emas itu
lima dinar? Untuk hanya satu burung emprit. Dibayar oleh Saydina Umar. Ketika burung itu sudah
dibayar kemudian burung itu diolahragakan sebentar oleh Saydina Umar, agar kelihatan seger
kemudian burung itu dilepas oleh Saydina Umar.

Amal inilah yang menjadikan Saydina Umar masuk kedalam surganya Alloh SWT. Saydina Umar yang ahli ibadah, yang ahli baca Qur’an, yang ahli sholat malam, Saydina Umar di mana di pipinya, bagian pipinya, di bawah matanya ini tampak ada garis hitam karena sering menangis ketika melihat Al Qur’an, ketika membaca Al Qur’an, ketika sholat malam. Saydina Umar yang sering menangis ingat kepada Alloh, sampai-sampai pipinya itu warnanya kehitaman ada garis itemnya di bawahnya mata, ngapal nangise.

Itu saja masuk kedalam surganya Alloh gara-gara hal sepele itu tadi. Yaitu
menyelamatkan burung gereja, menyelamatkan manuk emprit. Jadi Saydina Hasani, Saydina Huda
saydina-saydina yang lain. Mau pakai apa kita masuk surganya Alloh? Maka dari itu, ceritanya ini
dikisahkan dalam kitab Usfuriyah, yang pertama dalam kitab Usfuriyah itu dikatakan "irkhamu umam fil ardhi warhamhum mamfis sama" maka belas kasihanilah kalian semua kepada mereka-mereka mahluk Alloh yang ada didunia dan mereka mereka penghuni langit akan berbelas kasihan kepada kalian semua.

Burung pipit dalam bahasa Arab disebut Usfuur ( foto: koleksi Ulinuha Asnawi)


Ini para hadirin para hadirot faedah dari pada kita membaca Al Qur’an, faedah kita mondokkan
anak dalam pondok pesantren dan mereka menjadi ahlul Qur’an. Faedahnya tidak hanya untuk anak
kita saja, akan tetapi untuk kedua orang tuanya. Sak niki-niki poro rawuh kulo matur dateng
panjenengan sedoyo, lek golek pondok ati-ati. Opo maneh memondokkan anaknya untuk belajar
ilmu agama, belajar ilmu Qur’an, belajar ilmu hadis. Hati-hati.

Al ilmu dinun fandur min aina ta’kun dinaka, dawuhnya rosululloh ilmu itu adalah agama maka
berhati-hatilah kalian, maka lihatlah dulu dari siapa kalian belajar agama, dari siapa kalian
mengambil ilmu tersebut, kalian harus melihat siapa gurunya, kalian harus melihat ini pondoknya
siapa, ini sanad keilmuannya sampai di mana, ini harus jelas, karena ilmu itu adalah agama kita, salah
belajar ilmu, salah dalam memahami agama, salah belajar guru untuk membaca Al Qur’an yo salah
dalam membaca Al Qur’an.

Dulu itu ada di salah satu perguruan tinggi di Yogya. Ketika semua mau masuk perguruan tinggi,
semua mahasiswa itu diseleksi, dites untuk membaca Al Qur’an. Ada satu mahasiswa, itu ketika
membaca Al Qur’an . Baca Qur’an disuruh milih lagi, kamu mau milih surat yang mana?, saya milih surat yang paling panjang, apa itu? Surat Al Baqoroh, yang dituju juz yang Pertama, karena memang
saya bisanya yang pertama saja. Baca surat Al Baqoroh, calon mahasiswa yo umure wis tuwek.

Audubillahi mina syatonorojim, bismilahirokmanirohim, aaa laaa maaa dalikal quarnil adhim.lho alif lamim diwoco alama. Terang salah belajarnya, itu kalau Yasin bacanya yaa saa. Alif lam ro mocone aaa laa rooo, karena salah dalam menentukan siapa gurunya. Ilmu adalah agama kita, maka berhati- hatilah ketika kita memondokkan anak-anak kita, pilih pondok yang sesuai dengan kondisi
masyarakat kita, yaitu masyarakat ahlussunnah wal jama’ah. Pilih guru-guru yang sesuai dengan
kondisi masyarakat kita, yaitu guru-guru yang memiliki sanad keilmuan sampai kepada nabi kita
Mohammad SAW.


Baca sambungannya di:

Tausiyah Ustadz Reza Dalam Khataman MMQ JET TEMPUR Batam angkatan ke-13 tahun 2017 (BAGIAN 3)



Batam, Ahad 14 Mei 2017 atau 17 Sya’ban 1439 H

Wassalam

Friday, 8 December 2017

Tausiyah Ustadz Reza dalam Khataman MMQ JET TEMPUR Batam angkatan ke-13 tahun 2017 (BAGIAN 1)

Bismillahirrohmanirohim, Alhamdulillahiladhi Yatafaroqu bi Wahdaniyatil uluhiyah,
Walhamdiulilladhi yata’azaz bikahromatil Rububiyah wayu solli wa nusholli ala Sayidina wa Maulana Muhammad. Ibni Abdillah wa’ala alihi wa’as habihi wamauwalah amma ba’dah.

Hadrotal Qirom, poro kyai poro alim ulama, poro khabaib, poro sesepuh, poro pinisepuh. Yang kita
muliakan bersama-sama Habibana Karim Sayyid Muhammad Syauqi bin Yahya, semoga beliau selalu diberi kesehatan, umur panjang oleh Alloh swt. Amin ya Robbal Alamin.

Yang kita muliakan kita bersama-sama, beliau panjeneganipun hadhal ma’had, panjeneganipun Kyai
Khotibul Umam bin Kyai Haji Maftuh Basthul Birri akinal karim ibnul karim. Ingkang kita muliakan
bersama-sama segenap para hudamak, para khodim ponpes Jet Tempur Batam, panjenaganiun Pak
Kyai Huda, panjenaganipun Pak Kyai Imam Hasani, panjenenganipun Pak Kyai Agus, pokoke kulo
aturi kyai ngoten mawon.

Walaupun toh Pak Agus niki dereng rabi. Kados Pak Huda kalian Pak Imam Hasani niki jelas pak kyai. Jarene wong jowo niku pak kyai niku tukang numpak nggrayangi. Nggih kulo nggak paham apa yang ditumpaki dan apa yang digrayangi oleh beliau-beliau ini. Kalau kyai Agus ini saya yakin belum punya pengalaman dan skill untuk numpaki dan nggrayangi.

Segenap asatidz Ponpes Jet Tempur Madrasah Murottilil Qur’an yang dimuliakan Alloh SWT.
Segenap para sesepuh-sesepuh hadir ditengah-tengah kita. Sesepuh yang betul-betul sepuh.
Sesepuh yang betul-betul ampuh, panjenenganipun Romo Yai Samhudi. Beliau adalah guru saya,
beliau adalah sesepuh saya dan juga senior untuk para segenap alumni Ponpes Lirboyo. Jadi wis
senior, sepuh lagi. Sepuh itu kalau katanya orang jawa itu, sekali sesep langsung melepuh. Ini
memang keistimewaan dari beliau, maka waspadalah dengan beliau, sekali sembur bisa melepuh.

Hadirin hadirot yang dimuliakan oleh Alloh SWT, alhamdulillah pada kesempatan kali ini kita bisa
bersilaturahim, diberikan waktu oleh Allow SWT, diberi hidayah oleh Alloh, diberi rohmat oleh Alloh.

Pada kesempatan kali ini, dari berbagai macam daerah datang kesini. Ada yang dari Aceh, ada yang
dari Padang, ada yang dari Indramayu, ada yang dari Cirebon, ada yang dari Jawa Timur, ada yang
dari Kediri. Datang semuanya disini. walaupun toh ada yang keturunan, ada yang asli, macem-
macem, sampai subhanalloh In sya Alloh bibarkati hudurikum minal barokah dateng panjenengan
semua, majelis ini menjadi majelis yang dirohmati oleh Alloh SWT.

Majelis ini menjadi majelis yang dipenuhi dengan hidayah oleh Alloh SWT. Majelis yang diberikan barokah oleh Alloh SWT. Amin amin ya robbal alamin. Lebih-lebih di majelis ini, kita sama-sama menyaksikan, mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an. Kita menyaksikan yang in sya Alloh mereka tadi yang satu persatu dipanggil betul-betul menjadi ahlul Qur’an amin ya robbal alamin.

Al Qur’an ini memiliki hal yang sangat berbeda dengan kitab-kitab yang lainnya, satu mukjizat yang
berbeda dengan mukjizat-mukjizat Alloh yang diberikan kepada nabi-nabiNya Alloh, karena sangat
berbeda. Al Qur’an disini walaupun toh tulisannya itu dengan memakai dengan bahasa Arab. Al
Qur’ankan tulisannya pakai bahasa Arab” nahnu nazzalna qur’anan arobia” jadi dengan memakai
bahasa Arab. Tapi toh Al Qur’an itu tulisannya memakai bahasa Arab, tidak semua orang Arab
mengerti makna dan kandungan daripada Al Qur’an , dan bahkan tidak semua orang Arab itu bisa
membaca Al Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan tajwid dan mahrojnya.

Saya sendiri pernah mendengarkan langsung bagaimana teman-teman saya yang dari Yaman jelas asalnya yang aslul Arobia, asal Arab itu adalah Yaman. Umurnya yang sudah 20 tahun lebih mendekati 30 tahun, disuruh baca Al Qur’an, itu banyak sekali huruf-huruf yang diganti, mahroj gak pas, kemudian shorofnya juga tidak pas, harokatnya pun juga tidak pas, bukan jaminan, bukan jaminan ketika ia berjinsiah Arab, ketika dia adalah orang Arab, bukan jaminan dia bisa membaca Al Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan hukum-hukum bacaan dalam Al Qur’an.

Al Qur’an dengan memakai bahasa Arab, jelas. Dah bahkan satu riwayat mengatakan” tatasyarrofu
kulul quran , fatasyarofu lughotul arobiyah bilughotil quran” bahasa Arab itu bisa menjadi mulia
karena apa? Karena dipakai oleh Al Qur’an. Yang tadi disampaikan oleh habib, kesababapan dengan
Al Qur’an. Karena dipakai oleh Al Quran, akhirnya menjadi mulia. Kemuliaan bahasa Arab ini karena dipakai oleh Al Qur’an, karena memang yang bisa mengekspresikan makna daripada Al Qur’an hanya bahasa Arab.

Tidak ada bahasa satupun didunia ini yang bisa mengekspresikan.
Sampean tahu mengekspresikan itu apa? memang rodok repot ngomong karo wong deso iki. Untuk
menggambarkan makna kandungan, makna yang sebenarnya dari pada Al Qur’an, tidak ada yang
sanggup kecuali adalah bahasa Arab, sehingga Alloh disitu memakai bahasa Arab sebagai bahasa
pengantar dari pada Al Qur’an. Tapi walaupun toh Al Qur’an itu memakai bahasa Arab tapi tidak
semua, tidak semua orang Arab mengerti secara baik, mengerti secara benar apa yang dimaksud
oleh Al Qur’an.

Para santri bersalaman dengan Ustadz Reza saat beliau tiba ditempat acara( foto: koleksi pribadi)


Al habib al Muhammad al Badisani, salah satu tokoh pemikir dari Iraq, beliau pernah mengatakan
bahwasannya bahasa Arab itu adalah bahasanya Al Qur’an, tapi maknanya Al Qur’an itu makna yang
bersifat insani bathiniah yang memilki unsur psikologiah. Jadi para rawuh, Al Qur’an itu tulisannya
bahasa Arab, bahasanya pun juga bahasa Arab tapi kalau masalah makna dan kandungan tidak
hanya untuk mereka-mereka orang Arab. Faedahnya tidak hanya untuk orang Arab akan tetapi untuk
semua manusia, akan tetapi untuk semua bangsa , inilah hebatnya bahasa Arab.

Sehingga banyak orang orang yang berjiansiah Arabiah, mulai dari kecil dia ngomong bahasa Arab,
orang-orang Saudi, orang-orang Qatar, orang-orang Emirat, mereka semuanya itu pakai bahasa Arab.
Kalian nggak usah nggumun alias, apa namanya nggumun bahasa Indonesianya? Takjub, heran.
Sampean nggak usah takjub, nggak usah heran, di sana anak itu masih umur lima tahun bahasa
Arabnya ngeces. Nggak pakai kursus tapi bahasa Arabnya luar biasa, walaupun toh bahasanya
bahasa Arab, ngomongnya sak bendinane pakai bahasa Arab, bukan jaminan dia memahami makna
sebenar dari pada Al Qur’an.

Karena Al Qur’an bahasa hati , sama di setiap acara seperti ini pasti dibuka dengan pembacaan ayat
suci Al Qur’an, betul tho? Ada pembacaan ayat suci Al Qur’an dilantunkan dengan Indah,
dilantunkan dengan merdu, kemudian ada salah satu hadirin atau hadirot menangis ketika
mendegar Al Qur’an itu dilantunkan, nangis.

Ini pernah terjadi, ada seorang hadirin menangis ketika mendengar bacaan Al Qur’an dilantukan. Ketika dalam sebuah acara, sing moco Al Qur’an seneng ketika melihat ada yang menangis, uh! dalam hatinya “Kena loe”, tambah lama lagi bolak-balik, ayat lagi, surat baru lagi, tambah nangis orangnya tambah lagi Allohu Akbar! tambah nangis, subhanalloh.


Setelah orang itu turun habis baca Al Qur’an, orang yang nangis itu disamprerin, “kenapa tadi nangis?” “Karena saya nggak enak ya kalau ngaji ya?” Terus dijawab, “enggak, saya menangis ini
karena teringat akan siksanya Alloh nanti di akhirot, saya masuk neraka”. Naudhubillahi mindalik.
Pedih siksanya Alloh nanti di akhirot. Yang baca Qur’an ini kaget, kagetnya kenapa? “Karena
perasaan tadi yang saya baca itu ayat-ayat bercerita tentang surga. Kenapa bercerita tentang
neraka?” Ini artinya para hadirin, ini artinya para hadirot bahasa Al Qur’an tidak hanya bisa
dimaknai dari sisi leterleknya saja, akan tetapi kandungan Al Qur’an ini memiliki satu hal yang luar
biasa, bisa menyentuh hati seseorang.

Gara-gara seperti ini, pada akhirnya barokahnya Al Qur’an itu sampai meluber ke bahasa Arab.
Barokahnya Al Qur’an sampai meluber ke bahasa Arab, sehingga orang itu kalau ngomong Arab itu
mesti kelihatan lebih gagah dari pada kalau ngomong bahasa Indonesia, betul? Orang itu kalau
ngomong Arab itu luar biasa, orang itu tunduk-nduk.

Dulu saya pernah ada tamu tamu dari Yaman datang ke lirboyo, karena dari Yaman guru-guru saya, datang ke lirboyo. Ya beliau kalau ngomong pakai bahasa Arab. Selama beliau berbicara mulai dari A sampai Z kurang lebih dua jam, semuanya pakai bahasa Arab. Dan santri-santri yang mendengarkan semuanya mengatakan amin, amin, amin nggak ada yang berani tolah-toleh sama sekali, wis pokoknya apa yang dikatakan mesti bagus. Iniloh kehebatan bahasa Arab, ada unsur psikologiah ada unsur batiniyah.

Sehingga kalau sampean khususnya laki-laki, ketika kalian merayu seorang perempuan dengan
memakai bahasa Arab, ini lebih…, lebih ampuh daripada merayu memakai dengan bahasa-bahasa
selain bahasa Arab. Sampean ngrayu orang perempaun dengan memakai bahasa Indonesia, “Mbak
mukamu bagai rembulan”, paling sampean langsung di gebrak, “Emang muka saya bulat?”

Tapi kalu seandainya kalian merayunya pakai bahasa Arab “Masya alloh fajbukikal qomar fa ta la’la
hadhal majhlis hadha binuri”, lho itu orang kalau ketemu orang perempuan, dengar itu,
mengungakapkan dengan bahasa Arab yang fasih , fa in sya Alloh , langsung meminta berapa nomer
WA mu, berapa nomer hpmu?. Coba dipraktekkan Pak Agus. Ini saya jadi bertanya-tanya mungkin
sampean kurang mempraktekkan bahasa Arab ditengah-tengah santri putri. ini kehebatan bahasa
Arab.

Dulu itu pernah ada santri lirboyo tiga tahun gak pulang, karena tradisi di lirboyo, barang siapa yg
mondok tiga tahun gak pulang di lirboyo , in sya Alloh pulang langsung jadi orang. Ini tradisi Pondok
Lirboyo. Tiga tahun di Lirboyo gak pulang- pulang pasti jadi orang, pasti. Itu pernah, ketika sudah tiga tahun gak pulang. Kemudian dia pulang, kebetulan santri Indramayu, mau pulang ke Indramayu dari Kediri, naik bis. Ia tiga tahun ibaratnya di….Lirboyo. ketika naik bis, karena ini pas kebetulan musim liburan ia naik bis, itu semua kursi bis penuh dengan penumpang. Kecuali ada satu kursi, tapi
sampingnya itu perempuan, “Mau gak mau dari pada dari Kediri sampai Indramayu berdiri, lebih
baik saya duduk walaupun samping saya kok perempuan”, iniloh santri.

Kalau bukan santri pasti
kursi kosong, kecuali satu kursi sampingnya perempuan pasti milih duduk disamping perempuan,
kalau santri tidak. Itu ketika duduk, disamping seorang perempuan, karena sudah tiga tahun gak pernah ketemu sama perempuan , keringatan pak, gobyos. Duduk diem khusyuk, khuduk, tawadhu, diem. Yang perempuan akhirnya juga grogi. Itulah hebatnya santri, belum apa-apa bisa membuat grogi perempuan. Seorang santri itu yang dari Lirboyo diam. Untuk biar pecah suasana, untuk biar
menghilangkan rasa grogi, akhirnya apa ? ia menghafal Nadhom Alfiah, dia hafal Nadhom Alfiah

“Daripada nganggur lebih baik saya nglalar Nadhom Alfiah” (Ust Rezapun melafalkan beberapa bait alfiah dengan cepat, dan penulispun tidak sempat mencatatnya). Ini yang perempuan semakin lama dibacain Alfiah semakin keluar keringat panas dinginnya. Akhirnya yang perempuan ini bilang ke santri lirboyo, “Kang kalau mau memahabbahi saya jangan seperti ini caranya”. Gak tahu Alfiah itu apa, tapi yang jelas Alfiah tadi pakai bahasa Arab, akhirnya apapun yang terjadi si perempuan ini
yakin dia, hatinya sedang di tembak oleh santri tersebut, walaupun toh dengan memakai Nadhom
Alfiah. Dengan memakai bahasa Arab.




Baca sambungannya di:

Tausiyah Ustadz Reza Dalam Khataman MMQ JET TEMPUR Batam angkatan ke-13 tahun 2017 (BAGIAN 2)






Batam, Ahad 14 Mei 2017 atau 17 Sya’ban 1439 H


Wassalam

Monday, 30 October 2017

Tigabelas Adalah Angka Keramat yang Membahagiakan

Untuk kesekian kalinya kami sekeluarga bisa menghadiri acara khatam Al Qur’an di Ponpes MMQ Jet
Tempur Batam tahun ini. Acara khataman pada kesempatan ini adalah yang ke-13 yang akan digelar
oleh MMQ Jet Tempur Batam, semenjak khataman untuk pertama kalinya digelar tahun 2005.

Sekertariat MMQ Batam( foto: koleksi pribadi)


Khataman bagi MMQ sendiri adalah event terbesar diantara event- event lainnya yang pernah
diadakan. karena nilainya sangat istemewa dan berharga, baik bagi para calon khotimin dan juga
para punggawa MMQ (baca: panitia). Ini bukanlah acara pengajian biasa, karena banyak hal atau
persiapan yang harus dimatangkan demi melancarkan acara ini, seperti persiapan dari segi acara,
perlengkapan, pendanaan, dokumentasi dan lain sebagainya.

Kertas penunjuk acara(foto: koleksi pribadi)


Pagi ini tepatnya ahad 14 Mei 2017 atau 17 Sya’ban 1439 H saya menghadiri acara tersebut bersama
istri dan kedua anak saya. Saat kami datang, acara yang berlangsung adalah pembacaan surat- surat
pendek Al Qur’an oleh para khotimin , mereka membaca surat pendek bergantian yang dilaksanakan
diatas panggung utama dengan disaksikan oleh para tamu undangan semua.

Mereka nampak khusyuk dengan bacaan masing-masing, membaca dengan tajwid yang pas disetiap
ayatnya, kami pun tidak heran karena mereka sudah terbiasa memuroja’ah bacaan-bacaan tersebut
dalam kesehariannya kala mereka mengaji. Dan bacaan-bacaan ini mereka drill lagi dalam sesi-sesi
latihan menjelang acara khataman ini.

Ada yang terlihat tegang, gugup dan juga ada yang tenang. Kamipun maklum adanya karena ini
adalah acara besar apalagi disaksikan oleh banyak pasang mata. Salah sedikit bisa malu dibuatnya.
Walaupun hal itu tidak sampai terjadi, karena kami percaya mereka telah mahir semua. Kegugupan-
kegugupan itu pasti ada, dan hal ini wajar dan pernah dirasakan penulis sendiri saat menjadi
khotimin tahun 2010 silam hehe!

Khataman pagi ini saya ikuti dengan lagak sok sibuk lari sana lari sini, bukannya sibuk sebagai panitia
namun sibuk demi mengejar anak lelaki saya yang main lari-larian disekitar tempat acara, walaupun
begitu saya tetap pasang telinga dan perhatian pada jalannya acara.

Acara khataman sendiri dari tahun ke tahun selalu dilaksanakan di gedung milik MMQ sendiri,
walaupun nampak sederhana namun gedung tersebut punya arti istimewa bagi siapa saja yang
sedang dan pernah menimba ilmu di dalamnya, yaitu merasa tentram dan bahagia, selain karena
areanya yang dikelilingi oleh rindangnya pepohonon lereng bukit, juga tentram karena orang-orang
yang pernah singgah disini pernah merasakan bagaimana nikmatnya saat menuntut ilmu didalamya.

Jama'ah meluber hingga halaman depan(foto: koleksi pribadi)

Setiap pagi dan malam sering kita mendengar suara- suara berdengung layaknya suara tawon yang
bising, namun suara bising yang satu ini adalah suara bising yang menentramkan hati , yaitu bising
suara-suara para santri dalam aktivitas pembacaan Al Qur’an setiap harinya.

Selepas acara khotmil Qur’an atau pembacaan surat-surat pendek selesai, acara pun berlanjut.
Panitia sendiri membagi acara menjadi dua bagian yaitu pra acara dan acara inti. Diperinci sebagai
berikut, untuk senandung sholawat dan khotmil Qur’an yang berdurasi sekitar satu jam setengah
masuk pada bagian pra acara, sedang untuk acara tahlil, sambutan-sambutan, prosesi wisuda,
mauidzoh khasanah dan doa masuk dalam inti acara yang direncanakan selesai nanti jam 11,50
siang. begItulah sedikit gambaran jalannya acara nanti.

Selesai acara khotmil Qur’an, acara dilanjutkan dengan pembukaan oleh MC dilanjut dengan tahlil
oleh Kyai Samhudi. Kyai yang punya keahlian dalam ilmu falaq yang berdomisili di Tiban ini kerap
memimpin tahlilan pada acara khataman di tahun-tahun sebelumnya, beliau merupakan alumni
lirboyo, boleh dibilang sebagai alumni senior yang seangkatan dengan beberapa dewan asatidz
kami.

Kyai Samhudi(foto: koleksi Benny Ardi)


Makin siang tamu undangan makin banyak yang datang. Mereka terdiri dari beberapa unsur seperti
pemerintah, beberapa perwakilan ponpes disekitaran seperti dari ponpes Yanbuul Qur’an, PQNI,
Pencaksilat Pagar Nusa, beberapa ta’lim dan juga warga muslim sekitar.

Acara tahlil dilakukan sebentar saja lalu dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Untuk sambutan
Pertama dilakukan oleh ketua pelaksana, dalam hal ini adalah Mas Saifudin dan dilanjutkan oleh
perwakilan khotimin yang diberikan kepada Mas Trimakno atau yang lebih dikenal dengan panggilan
Mohammad Qoni, dan sambutan ketiga adalah perwakilan dewan asatidz yang diberikan kepada Pak
Imam Hasan Asy’ari.

Dalam sambutannya, Pak Hasan berterimakasih kepada semua undangan yang telah hadir dan juga
beliau menginfokan bahwa sambutannya ini bisa panjang juga bisa pendek tergantung kondisi,
karena sampai sejauh ini dua tamu istimewa acara ini belum hadir, yang katanya masih dalam
perjalanan, yang sekarang posisisnya di pintu lima Batamindo. Beliau berdua yang disebut tamu
istimewa adalah Ustadz Reza Ahmad Zahid dan Kyai khotibul Umam.

Dalam sambutannya, Pak Hasan menyanjung kegigihan para santri MMQ dalam menuntut ilmu.
Salah satunya adalah Mas Qoni tadi. Bahwa santri kalau bisa meniru perjuangan maupun semangat
Mas Qoni, walau ia berstatus tidak lajang lagi namun semangatnya cukup tinggi dalam menuntut
ilmu. Walaupun sering dimarahi, dibentak saat mengaji, santri satu ini tetap bersemangat dan tidak
mudah patah arang.

Selain itu Pak Hasan tak lupa memberi selamat kepada para khotimin dan juga panitia yang telah
menggelar acara khataman ke-13 ini. Beliau menyampaikan, konon angka 13 adalah angka keramat
yang menakutkan. Namun beliau melanjutkan bahwa angka keramat tersebut kita ubah menjadi
angka keramat yang membahagiakan. Selain itu beliau juga menginformasikan tentang model
pengajaran dan juga jumlah santri yang mengaji disini, beserta dinamika lainnya tentang MMQ Jet
Tempur Batam ini. Setelah dirasa cukup, Pak Hasan pun mengakhiri sambutan yang rupanya cukup
singkat tersebut.

Acarapun dilanjutkan ke sesi berikutnya. Sejatinya saat ini adalah sesi sambutan Kyai Maftuh Basthul
Birri yang berupa selembar kertas yang akan dibacakan langsung oleh putra beliau sendiri yaitu Kyai
khotibul Umam. Berhubung Kyai khotibul Umam dan juga Ustadz Reza juga belum hadir, maka
sebagai penggantinya, sesi inipun diisi dengan tausiyah oleh Habib Syauqi bin Yahya dari Sagulung
Batu Aji Batam, demi menunggu dua alim muda tersebut hadir.

Habib Syauqi bin Yahya( foto: koleksi Benny Ardi)


Habib Syauqi mengisi tausiyah singkat saja. Sebagaiman kita tahu, habib satu ini sudah pernah
beberapa kali juga mengisi tausiyah diacara khataman MMQ ini beberapa tahun silam, kamipun
berbahagia beliau bisa hadir dan memberikan sedikit tausiyah pagi ini. Kurang lebih lima belas
menit beliau tausiyah, dua alim muda yang kami tunggu pun datang, yaitu Kyai Khotibul Umam dan
Ustadz Reza. Yang saat itu datang dari bawah dengan dibonceng motor oleh beberapa santri penjemput, maklum akses menuju tempat acara hanya bisa dicapai dengan jalan kaki dan kendaraan
roda dua saja.

Serentak para santripun berebut menyalami beliau berdua selanjutnya menyilakan beliau berdua
masuk ke ruang utama. Dan beliau berduapun langsung mengambil tempat duduk di barisan depan
dan mendengarkan tausiyah Habib Syauqi yang sedang berlangsung.
Selesai tausiyah oleh Habib Syauqi, acarapun dilanjutkan dengan sambutan pengasuh ponpes MMQ
pusat yaitu Romo Yai Maftuh Basthul Birri. Dalam kesempatan ini sambutan yang berupa secarik
kertas tersebut dibacakan langsung oleh putra ke dua beliau yaitu kyai Khotibul Umam, yang hadir
baru saja.

Sekilas penampilan kyai muda ini biasa saja, postur tubuhnya tidaklah begitu tinggi kesannya seperti
ABG saja, namun semua orang sangat menghormatinya, selain beliau anak pengasuh ponpes MMQ
Lirboyo pusat, beliau tentunya orang yang dalam ilmu agamanya. Dengan tenang Kyai Khotibul
Umam menuju panggung dan membaca sambutan romo beliau didepan para jama’ah semua.

Kyai Khotibul Umam membacakan sambutan pengasuh Ponpes MMQ pusat(foto: koleksi pribadi)


Seperti yang sudah-sudah, sambutan Kyai Maftuh dari segi bahasa terdengar khas. Bahasa Indonesia
tidak baku(baca: nonformal) sehingga mudah dimengerti. Kadang- kadang bahasanya bercampur
dengan Bahasa Jawa. Memang itulah ciri khas beliau, salah satu ulama sepuh dari tanah Jawa.

Di awal sambutannya, beliau menyambut baik acara khataman MMQ yang sudah ke-13 kalinya ini.
Selain itu kita para santrinya dianjurkan untuk tetap mengikuti ajaran-ajaran ahlussunnah wal
jama’ah, supaya menjadi orang yang selamat. Karena jamak kita ketahui banyak aliran-aliran yang
tidak jelas dalam islam ini. Dalam sambutan yang dibacakan putra beliau ini, beliau juga kadang
menyitir Sholawat Batam, salah satu sholawat yang beliau karang saat kedatangan beliau pada masa
awal pembangunanan MMQ Batam dahulu.

Tak lupa beliau mengingatkan santrinya, selain belajar Al Qur’an supaya para santri memperbaiki
akhlaknya. Dan sambutan beliaupun ditutup dengan doa, semoga kita semua bahagia dunia dan
akhirat. Selesai sambutan yang ditulis dalam secarik kertas tersebut, acarapun dilanjutkan ke prosesi
selanjutnya.

Prosesi selanjutnya adalah suatu prosesi yang sangat dinanti-nantikan oleh para khotimin. Yaitu
prosesi penyerahan syahadah, yaitu penyematan tanda kelulusan pada para
khotimin(wisudawan/wisudawati). Dalam prosesi ini diadakan penyerahan syahadah yang dibagi
menjadi tiga kesempatan.

Kesempatan pertama penyerahan syahadah untuk anak-anak TPA yang
sukses mengkhatamkan kitab a ba ta Jet tempur dan juga telah hafal Surat Annas hingga ad dukha.
Ini adalah penyerahan syahadah angkatan ke-2 bagi anak-anak. Enam anak yang diwisuda ini adalah
para anak didik dari santri MMQ yang sudah punya ketrampilan mengajar.

Wisudawan/ti anak anak(foto: koleksi pribadi)


Berikutnya adalah penyerahan syahadah kepada 19 ibu-ibu yang sudah khatam belajar kitab a ba ta
Jet Tempur juga. Ibu-ibu ini berasal dari beberapa majelis ta’lim disekitaran wilayah kecamatan Sei
Beduk ini, mereka juga para murid dari santri-santri wanita MMQ yang didukung oleh beberapa
ustadzah.

Wisudawati ibu-ibu(foto: koleksi pribadi)


Yang terakhir adalah wisuda dan penyerahan syahadah kepada para santri laki-laki dan santri wanita
MMQ sendiri. Mereka yang diwisuda adalah yang telah berhasil menyelesaikan mengaji Qur’an 30 juz secara binnadhor(membaca), langsung dihadapan gurunya selama ini. Prosesi penyerahan
syahadah masih sama dengan tahun-tahun lalu, dengan diiringi sholawat, para khotimin maju satu
persatu untuk diberi setifikat, cendramata dan dan selempangan surban secara simbolik sebagai
tanda kelulusan dan diakhiri dengan foto bersama para dewan asatidz diatas panggung.

Para khotimin terlihat mengulum senyum bahagia saat foto bersama, karena telah berhasil
mengikuti proses acara khataman ini, baik sebelum acara hingga puncaknya pada detik ini, namun
yang membuat bahagia adalah mereka telah mensukseskan perjuangan mengaji quran 30 juz dan
juga mengaji disilplin ilmu lainnya di madrasah tercinta ini.

Kesepuluh wisudawan/ti angkatan ke-13 tahun ini(foto: koleksi pribadi)


Berikut mereka tiga santri laki-laki dan tujuh santri wanita yang di telah diwisuda pada khataman
angkatan ke-13 pagi ini:

1. Juliono bin Tarmidi dari Tegal
2. Muhammad Qoni bin Sutijo Sastroharjono(alm) dari Sleman
3. Andri Isnadi bin Widi Sasmito dari Prambanan
4. Susanti binti Sido(alm) dari Madiun
5. Suci Nurhartati binti Muhadi dari Sleman
6. Puji Hernawati binti Bana(alm) dari Majalengka
7. Wulan Ningsih binti Sunardi dari Sragen
8. Romi Dwiani binti Tamiran dari Madiun
9. Riki Nurwati binti Zaeni dari Temanggung
10. Siti Choirun Amala binti Multazam dari Magelang

Dilihat dari jumlahnya, tahun ini lebih sedikit dari pada tahun lalu. Untuk khataman tahun lalu
jumlah khotiminnya 18 orang . Dan tahun ini hanya 10 khotimin, dan ke-10 khotimin inipun
berasal dari pulau jawa semua, ini berbeda dengan tahun lalu yang terdapat beberapa khotimin asal
Pulau Sumatera.


Inipun wajar, dalam menuntut ilmu naik turun baik dari segi jumlah maupun
motivasi seseorang. Dan seleksi alam yang akan menjawabnya, kita bertahan sampai tujuan atau
gugur ditengah jalan? Semoga kita tetap istiqomah dalam bertolabul ilmi ataupun kebaikann lainnya.
Siapa tahu dengan kuantitas yang kecil namun terdapat kualitas yang besar dan bukan sebaliknya.
Semoga kedepan bisa berbanding lurus antara kuantitas dengan kualitasnya, sama sama tinggi.
Wallohu’alam.

Usai penyerahan syahadah, sampailah acara pada acara inti yaitu mauidoh Hasanah, dan pada
kesempatan yang istimewa ini sebagai penyampai adalah Ustadz Reza Ahmad Zahid pengasuh
Ponpes Al Mahrusiyah Lirboya Kediri. Beliau merupakan putra dari KH Imam Yahya Mahrus(alm)
yang juga pernah berkunjung ke MMQ Batam saat menghadiri khataman si penulis dan rekannya
tujuh tahun silam.

Ustadz Reza Ahmad Zahid(foto: koleksi pribadi)


Ustadz Reza ini masih muda dan seumuran dengan Kyai Khotibul Umam, nampak dari intonasi
suaranya yang kuat saat menyampaikan ceramahnya siang ini. Diawal ceramahnya, beliau tak lupa
memberi selamat kepada seluruh khotimin atas diwisudanya mereka pagi ini. Beliau juga
menyampaikan faedah-faedah menjadi ahli Qur’an, yang mana Qur’an ini akan menjadi Shodiqun
Mussyafak atau pemberi syafa’at kelak ila yaumil akhir. Al Qur’an akan memberi barokah kepada siapa saja yang membaca dan yang mengamalkannya. Ustad Reza sekali kali menyelingi tausiyahnya
dengan banyolan-banyolan ala pesantren yang membuat para jama’ah merasa terhibur.

Selain menyampaikan tentang faedah Al Qur’an, beliau juga menganjurkan kita untuk mencari ilmu
di pondok-pondok yang sesuai dengan ahlus Sunnah wal jama’ah dengan sanad yang benar-benar
menyambung ke Rosululloh. Kadang beliau memberi contoh kehidupan para wali Alloh dengan sifat
ketawadu’annya. Dan salah satu yang beliau contohkan adalah kehiduapan Syech Abdul Rohman
Bajalhaban dari Hadramaut.( Tausiyah Ust Reza secara lengkap bisa di baca pada link diakhir tulisan ini)

Banyak hal yang diangkat oleh beliau dalam tausiyahnya, tak terkecuali cerita lucu dipesantren
lirboyo. Saking lucu dan menariknya tausiyah beliau yang lamanya satu jam lebih, masih terasa
kurang bagi jama’ah yang hadir. Namun sesuai rundown acara, maka tepat pukul 11.50 acara
mauidhoh khasanah pun diakhiri dan dilanjut dengan doa. Usai dibacakan do’a maka keselurahan
acara khataman pagi ini ditutup dengan ramah tamah atau makan-makan. Untuk para asatidz dan
tamu undangan acara ramah tamahnya di pondok bawah depan masjid Muhajjirin, sedang kami para
santri dan lainnya tetap di tempat acara pagi ini.

Acara ramah tamah berlangsung dengan suka ria dengan dihibur iringan sholawat dari tim sholawat
kebanggaan MMQ, Syifa’ul Qolbi. Penampilan grup sholawat Syifaul Qolbi agak beda dengan tahun-
tahun sebelumnya. Sekarang mereka memakai seragam baru berwarna biru dan tampak lebih teduh.
Sedang para khotimin menggunakan kesempatan ini untuk berfoto bersama di panggung, demi
mendapakan foto terbaik sebagai kenangan.

Grup sholawat Syifa'ul Qolbi dengan seragam barunya(foto: koleksi pribadi)

Rasa bahagia terpancar dari wajah-wajah para khotimin
yang sedang berfoto bersama ini. Apa yang disampaiakan Pak Hasan bahwa angka tiga belas adalah
angka keramat yang membahagiakan pun terbukti disini. semuanya berbahagia.

Demikianlah tulisan ini saya buat, semoga bisa dijadikan kenangan dan pengingat dimasa yang akan
datang. Sebelum saya tutup tulisan ini, berikut beberapa fakta yang ditemukan penulis saat acara
khataman angkatan ke-13 pagi ini:

1. Untuk Pertama kalinya khataman angkatan ini menciptakan logo angkatan dengan
    motto”Azimat” yang artinya berketetapan hati dan berkemauan kuat.
2. Adanya seragam baru dan logo baru untuk grup sholawat Syifa’aul Qolbi.
3. Diwisudanya ibu- ibu dari ta’lim didikan santi MMQ untuk pertama kalinya(angkatan
    Pertama).

Akhirnya saya ucapkan selamat kepada para khotimin dan juga para santri yang telah sukses
melaksanakan acara Khataman angkatan ke -13 ini. Semoga kita semua menjadi orang orang yang
mau mengingat dan bisa mengambil pelajaran yang terkandung dalam Al Qur’an, seperti bunyi surat
Al Qomar ayat 17 yang tertempel di backdrop panggung saat acara:

Ayat 17 dalam Qs. Alqomar(foto: koleksi pribadi)



                         “ Walakod Yassarnal Qur'ana liddikri fahal min muddakkir”

Artinya “Dan sesungguhnya telah kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran( pengingat), maka
adakah orang yang (mau) mengambil pelajaran?”


___*****___ 


Berikut Momen-momen menarik lainnya:

Tamu undangan sangat antusias walaupun duduk lesehan di jalan(foto: koleksi pribadi)




Jama'ah akhwat didepan kelas Aliyah( foto: koleksi pribadi) 



Undangan yang sampai dirumah penulis( foto: koleksi pribadi)



Dewan asatidz dan tamu undangan( foto: koleksi pribadi)



"Azimat" logo khotimin  angkatan ke-13


Makanan ringan yang telah siap untuk dihidangkan( foto: koleksi pribadi) 



Tanda pengenal sebagai panitia( foto: koleksi pribadi)



Hadiah hadiah dan cenderamata( foto: koleksi pribadi)



Loggo grup sholawat Syifa'ul Qolbi yang baru tercipta tahun ini( foto: koleksi pribadi)



Penerima tamu akhwat (foto: koleksi pribadi)



Stiker dan minuman siap dibagikan( foto: koleksi pribadi)



Kyai Khotibul Umam(tengah) merokok sejenak disela acara(foto: koleksi pribadi)



Sambutan pengasuh Ponpes Lirboyo pusat, klik untuk memperbesar (foto: koleksi pribadi)

Baca Juga:

Tausiyah Ust Reza (Bagian 1)
Tausiyah Ust Reza (Bagian 2)
Tausiyah Ust Reza (Bagian 3)


Batam, 14 mei 2017/17 sya’ban 1438H


Wassalam.

Thursday, 29 June 2017

Janganlah Menjadi Manusia Yang Bersifat Seperti Kalajengking

Segala puji hanya milik Alloh yang Maha Esa, yang benar janji-Nya, yang menolong Hamba-Nya dan meninggikan pasukan perang-Nya, dan mengalahkan pasukan musuh. Ya Alloh ya Tuhan kami, berikanlah kesejahteraan dan keselamatan kepada orang yang menjadi ikutan yang baik, demikian juga kepada keluarganya dan para sahabat-sahabatnya yang mengikutinya.

Pembaca yang budiman, manusia di dunia ini banyak macam sifatnya. Baik yang bersifat baik juga bersifat buruk. Yang bersifat baik seperti halnya malaikat yang semua tindak tanduknya adalah kebaikan saja, sedang yang bersifat buruk ibarat kalajengking, ular dan hewan buas lainnya. Karena hewan buas tersebut tiada apa yang bisa diharapkan kebaikannya dan yang ada hanya keburukan yang sifatnya membahayakan lainnya seperti menggigit dan menyengat.

Jika kamu rela derajatmu turun dari yang paling tinggi seperti halnya malaikat maka janganlah kamu rela turun derajatnya sampai paling rendah serendahnya seperti sifat kalajengking, ular dan hewan buas seperti diatas. Maka jika kamu ingin selamat sampai tempat kembalimu(Akhirat) janganlah kamu sibuk di dunia in kecuali dengan apa-apa yang bermanfaat bagimu.

Jika kamu lemah dan tidak mampu menegakkan hak agamamu atau melaksanakan kewajiban agamamu karena bekumpul dengan manusia dan menjadikan kamu tidak selamat, kalau berkumpul dengan manusia dan tidak bisa beribadah, kalau begitu bagaimana? Maka menyendiri adalah lebih utama, karena dalam kesendirian itu terdapat keselamatan, kebahagian dan keberuntungan.

Seumpama kamu menyendiri bagaimana? Bisa jadi dalam kesendirianmu ada bisikan setan yang menarik dan mengajakmu terhadap sesuatu yang membuatmu ingin berbuat maksiat dan kamu tidak mampu mencegahnya atau menahannya? maka wajib bagimu dengan tidur, daripada jaga tapi melakukan tindakan maksiat.

Maka sejelek-jeleknya, sehina-hinanya orang yang ingin selamat agamanya adalah dengan tidur atau mengosongkan kehidupannya. Daripada jaga tapi melakukan maksiat, seperti mengomongkan kejelekan orang lain, bergunjing, bergibah dan lain sebagainya. Tidur itu lebih baik.

Dan tidur itu menyerupai perkara atau sesuatu yang tidak berakal, jadi orang berakal kok seperti sesuatu yang tak berakal seperti hewan, batu dan benda mati lainnya.

Bersambung…

Sampul kitab Bidayatul Hidayah(foto: dokpri)

Catatan:

1)Artikel secuil diatas adalah penggalan dari pengkajian kitab Bidayatul Hidayah karangan Syech Muhammad Nawawi Al Jawi yang disampaikan oleh Ustadz Miftahul Huda asal Blitar.

2)Saya berusaha menuliskan kembali apa yang saya dapat dari pengkajian tersebut dengan tulisan baku bahasa Indonesia yang sempurna supaya mudah dimengerti, karena pengkajian kitab ini asalnya menggunakan bahasa kitab kuning ala pesantren yang memerlukan penala’ahan lebih dalam.


Semoga bermanfaat.

 gambar tematik sdit kelas satu